PRAKTIKUM
V
PEMBUATAN
EMULSI MINYAK IKAN
A. TUJUAN
1. Mahasiswa
mampu membuat sediaan emulsi dengan baik dan benar.
2. Mahasiswa
mampu menghitung dosis dan jumlah bahan dengan tepat
3. Mahasiswa
mampu mengevaluasi sediaan emlsi meliputi Organoleptis, BJ, pH, dan Viskositas.
B. DASAR TEORI
Emulsi
adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi
dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang
cocok ( Depkes RI, 1979).
Emulsi
merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya air
dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam
cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini bergabung
(koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah ( Anief,
2006).
Dalam
bidang farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air. Berdasarkan fase
terdispersinya, dikenal dua jenis emulsi, yaitu :
1. Emulsi
minyak dalam air, yaitu bila fase minyak terdispersi dalam fase air.
2. Emulsi
air dalam minyak, yaitu bila fase air terdispersi dalam fase minyak.
Dalam
pembuatan emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk
diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh
emulgator yang digunakan. Surfaktan seringkali digunakan dalam pembuatan suatu
emulsi. Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air
dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fase
terdispersinya. Zat pengemulsi adalah PGA, Tragacanth, gelatin, sapo, senyawa Ammonium
kwartener, cholesterol, surfaktan seperti tween dan span (Ansel, 1989).
HLB
adalah singkatan dari Hydrophiel-Lypophiel
Balance. Nomor HLB diberikan bagi tiap-tiap surfaktan. Daftar di bawah
inimenunjukkan hubungan nilai HLB dengan bermacam-macam tipe sistem.
|
Nilai HLB
|
Tipe sistem
|
|
3
– 6
|
A/M
emulgator
|
|
7
– 9
|
Zat
pembasah ( wetting agent)
|
|
8
– 18
|
M/A
emulgator
|
|
13
– 15
|
Zat
pembersih (detergent)
|
|
15
– 18
|
Zat
penambah pelarutan (solubilizer)
|
Makin rendah
nilai HLB suatu surfaktan maka semakin akan semakin lipofil surfaktan tersebut,
sedangkan makin tinggi nilai HLB surfaktan akan semakin hidrofil (Anief, 2006).
Cara
menentukan HLB ideal bagi suatu emulsi apabila kebutuhan HLB tidak diketahui
ada tiga fase.
1. Fase
I.
Menentukan HLB yang dibutuhkan
secara kira-kira. Caranya dibuat 5 macam atau lebig emulsi suatu zat cair
dengan sembarang campuran surfaktan dengan klas kimia yang sama. Dari hasil
emulsi dapat dibedakan salah satu yang terbaik diperoleh HLB kira-kira. Bila
semua emulsi baik atau jelek maka percobaan diulang dengan mengurangi atau
menambah emulgator.
2. Fase
II
Membuat 5 macam emulsi lagi dengan
nilai HLB di sekitar HLB yang diperoleh dari fase I. dari kelima emulsi,
dipilih hasil yang terbaik, maka diperoleh nilai HLB yang ideal.
3. Fase
III
Membuat 5 macam emulsi lagi dengan
nilai HLB yang ideal dari fase II dengan menggunakan bermacam-macam surfaktan
atau campuran surfaktan. Dari emulsi yang paling baik, dapat diperoleh campuran
surfaktan mana yang paling baik / ideal (Anief, 2006).
Ketidakstabilan
dalam emulsi farmasi dapat digolongkan sebagai berikut :
a.
Flokulasi
dan Creaming
Creaming merupakan pemisahan dari
emulsi menjadi beberapa lapisan cairan, dimana masing-masing lapisan mengandung
fase dispers yang berbeda.
b. Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking
atau breaking). Creaming adalah proses yang bersifat
dapat kembali, berbeda dengan proses cracking ( pecahnya emulsi) yang bersifat
tidak dapat kembali. Pada creaming, flokul fase dispers mudah didispersi
kembalidan terjadi campuran homogen bila digojok perlahan. Sedang pada cracking, penggojokan sederhana akan
gagal untuk mengemulsi kembali butir-butir tetesan dalam bentuk emulsi yang
stabil.
c. Inversi,
adalah peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M atau
sebaliknya (Anief, 2006).
C. PEMERIAN dan KELARUTAN
1.
Oleum
Iecoris
Pemerian : cairan; kuning pucat; bau khas, agak
manis, tidak tengik; rasa khas.
Kelarutan : sukar larut dalam etanol (95%) P; mudah
larut dalam kloroform P, dalam eter P, dan dalam eter minyak tanah P.
Khasiat : sumber vitamin A dan D ( Depkes RI,
1979)
Dosis : dewasa : 1x = - ; 1hr = 15mL – 30mL ( Obat-Obat Penting, 2007)
2.
Natrii
Carboxymethylcellulosum
Pemerian : serbuk atau butiran; putih atau putih
kuning gading; tidak berbau atau hampir tidak berbau; higroskopik.
Kelarutan : mudah mendispersi dalam air, membentuk
suspensi koloidal; tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam eter P, dan dalam
pelarut organic lain.
Khasiat : zat tambahan ( emulgator ) ( Depkes
RI, 1979)
Penggunaan : emulsifying agent : 0,25% - 1% ( Rowe, 2009)
3.
Tween
80 ( Polysorbatum)
Pemerian : cairan kental seperti minyak; jernih,
kuning; bau asam lemak, khas
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam etanol
(95%)P, dalam etil asetat P, dan dalam methanol P; sukar larut dalam paraffin
cair P, dan dalam minyak biji kapas P.
Khasiat : zat tambahan ( emulgator ) ( Depkes
RI, 1979 )
Kadar : 1% – 10% ( Rowe, 2009)
4.
Sorbitolum
Pemerian : serbuk, butiran atau kepingan; putih;
rasa manis; higroskopik
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, sukar larut
dalam etanol (95%) P, dalam methanol P, dan dalam asam asetat P.
Khasiat : zat tambahan ( humectant) ( Depkes RI,
1979)
Kadar
: 3 – 15% untuk humectant ( Rowe,
2009)
5.
Sir.
Simplex
Pemerian : cairan jernih tidak berwarna, mengandung
sakarosa 65% dalam larutan nipagin
Kelarutan : larut dalam air
Khasiat : zat tambahan (Pemanis) (Anief, 2006)
Komposisi : sakarosa 65% dan nipagin 35% (Anief, 2006)
D. ALAT dan BAHAN
|
ALAT
|
BAHAN
|
|
Gelas
ukur
|
Minyak
ikan
|
|
Batang
pengaduk
|
CMC
Na
|
|
Beaker
glass
|
Tween
80
|
|
Lampu
spiritus
|
Sorbitol
|
|
Gelas
ukur
|
Sirupus
simplex
|
|
Viscometer
broke field
|
Sunset
yellow
|
|
Piknometer
|
Ess.
Orange
|
|
pH
meter
|
Na
Benzoat
|
|
Neraca
|
Aquadest
|
E.
|
FORMULA
F. PERHITUNGAN DOSIS
è Dosis
1hr = 15mL – 30 mL (Obat-Obat Penting, 2007)
Penetapan dosis :
17,5 mL ( 1 ½ sendok makan) = 15 mL minyak ikan
15 mL ( 1 sendok makan) =
10 mL minyak ikan
7,5 mL ( ½ sendok makan) = 5 mL minyak ikan
3,25 mL ( ¼ sendok makan) = 2,5 mL minyak ikan
Perhitungan
dosis satu hari
|
Usia
(Tahun)
|
Perhitungan
Dosis 1hr
|
Rentang dosis(mg)
|
Pemakaian
1hr(sendok takar)
|
Cek
dosis 1x
|
|
2
|
2/14
X 15 – 30
|
2,14
– 4,28
|
¼
sdm
|
2,5/4,28=0,58≠OD
|
|
3
|
3/15
x 15 – 30
|
3
– 6
|
½
sdm
|
5/6=0,83≠OD
|
|
4
|
4/16
x 15 – 30
|
3,75
– 7,5
|
½
sdm
|
5/7,5=0,66≠OD
|
|
5
|
5/17
x 15 – 30
|
4,41
– 8,82
|
½
sdm
|
5/8,82=0,56≠OD
|
|
6
|
6/18
x 15 – 30
|
5
- 10
|
½
sdm
|
5/10=0,5≠OD
|
|
7
|
7/19
x 15 – 30
|
5,52
– 11,05
|
1
sdm
|
10/11,05=0,90≠OD
|
|
8
|
8/20
x 15 – 30
|
6
- 12
|
1
sdm
|
10/12=0,83≠OD
|
|
9
|
9/20
x 15 – 30
|
6,75
– 13,5
|
1
sdm
|
10/13,5=0,74≠OD
|
|
10
|
10/20
x 15 – 30
|
7,5
- 15
|
1
sdm
|
10/15=0,66≠OD
|
|
11
|
11/20
x 15 – 30
|
8,25
– 16,5
|
1
½ sdm
|
15/16,5=0,90≠OD
|
|
12
|
12/20
x 15 – 30
|
9
– 18
|
1
½ sdm
|
15/18=0,83≠OD
|
Aturan pakai :
2 tahun : 1 x sehari ¼
sendok makan
3 – 6 tahun : 1 x sehari ½ sendok makan
7 – 10 tahun : 1 x sehari 1 sendok makan
11 – 12 tahun : 1 x sehari 1 ½ sendok makan
G. JUMLAH BAHAN
|
Nama Bahan
|
1 Formula
|
5 Formula
|
|
Ol.
Iecoris asseli
|
10/15
x 60 mL = 40 mL
|
40
mL x 5 = 200 mL
|
|
Tween
80
|
1/100
x 60 mL = 0,6mL
|
0,6g
x 5 = 3mL
|
|
CMC
Na
Air
untuk CMC Na
|
1/100
x 60 mL = 0,6g
|
0,6g
x 5 = 3g
|
|
10
– 20 x 0,6g = 6 – 12g
|
10
– 20 x 3g = 30 – 60g
|
|
|
Sir.
Simplex
Fruktosa
Nipagin
|
10/100
x 60 mL = 6 mL
|
6mL
x 5 = 30mL
|
|
65/100
x 6mL = 3,9mL
|
3,9mL
x 5 = 19,5mL
|
|
|
35/100
x 6 mL = 2,1mL
|
2,1
mL x 5 = 10,5 mL
|
|
|
Na
Benzoat
|
0,1/100
x 60 mL = 0,06g
|
0,06
mL x 5 = 0,3g
|
|
Sorbitol
|
5/100
x 60 mL = 0,3g
|
0,3g
x 5 = 1,5g
|
|
Sunset
Yellow
|
0,01/100
x 60 mL = 0,006g
|
0,006g
x 5 = 0,03g
|
|
Ess.
Orange
|
8
– 10 tetes
|
40
– 50 tetes
|
|
Aquadest
|
60
–(40 + 0,6 + 0,6 + 12 + 6 + 0,06 + 0,3 + 0,06 ) = 0,38mL
|
0,38
mL x 5 = 1,9 mL
|
H. CARA KERJA
Pembuatan sediaan :
Dikalibrasi
botol / beakerglass 100mL
↓
Ditimbang
oleum iecoris asseli, dimasukkan beakerglass
↓
Ditimbang
CMC Na dan dikembangkan dalam air, diaduk hingga mngembang
↓
Ditimbang
tween 80 sebanyak 3mL
↓
Minyak
ikan, CMC Na, dan tween 80 dimasukkan ke dalam blender, diblender 3 – 5 menit
↓
Hasil
dimasukkan ke dalam beaker glass
↓
Diambil
sedikit emulsi dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk uji stabilitas
↓
Ditentukan
viskositasnya dengan viscometer brokefield
↓
Dilakukan
evaluasi
Evaluasi
sediaan :
1.
Organoleptis
Diamati warna
↓
Dicium bau
sediaan
↓
Dirasakan rasa
sediaan
2.
pH
dimasukkan pH
meter ke dalam wadah berisi sediaan
↓
Diputar hingga
menunjukkan angka yang ditetapkan
↓
Dicatat hasilnya
3.
Bobot
Jenis
bandingkan BJ
sediaan dengan BJ air menggunakan piknometer
caranya :
ditimbang
piknometer kosong, catat bobotnya
↓
Ditimbang
piknometer berisi air, catat bobotnya
↓
Ditimbang
piknometer berisi sediaan, catat bobotnya dan bandingkan
4.
Viskositas
Disiapkan
Viskometer Brokefield
↓
Disiapkan emulsi
yang akan diuji dalam beakerglass
↓
Diletakkan
beakerglass berisi emulsi di bawah spindle
↓
Dinyalakan
Viscometer Brokefield
↓
Dicatat hasil
yang tertera di Viskometer
5.
Kestabilan
Dimasukkan
sediaan emulsi ke dalam tabung reaksi
↓
Dikocok mulsi
beberapa saat
↓
Diamati
kecepatan pemisahan sediaan emulsi menjadi dua lapisan
6.
Tipe
Emulsi
Tipe
A/M ( air dalam minyak )
Metode
pengenceran : terjadi campuran
homogen bila diencerkan dengan air
Metode
pewarnaan : emulsi dapat
terwarnai dengan metilen blue
Konduktivitas
listrik : mampu menghantarkan
listrik / lampu menyala
Metode
penyaringan : bila disaring
dengan kertas saring dapat menyebabkan kertas saring basah.
Tipe
M/A ( minyak dalam air )
Metode
pengenceran : tidak terjadi
campuran homogen
Metode
pewarnaan : emulsi dapat
terwarnai dengan sudan III
Konduktivitas
listrik : tidak dapat
menghantarkan listrik / lampu tidak menyala
Metode
penyaringan : bila disaring
dengan kertas saring akan muncul bercak minyak
I. HASIL
1. Organoleptis
Bentuk : cairan kental
Bau :
khas minyak ikan
Warna : putih kekuningan
Rasa : manis-amis
2. Viskositas
: 124,5 cps → 41,2%
3. pH : 2,94
4. Tipe
emulsi : air dalam minyak (
A/M )
5. BJ
:
Pikno kosong = 9,82
Pikno + air = 20,40
Pikno + sediaan = 19,73
ρair
1
= 10,58
V air
10,58
= 0,94
ρair
1
= 0,94
6.
Kestabilan : stabil
J. DATA PENGAMATAN
Kelompok
evaluasi
|
Kel. 1
|
Kel. 2
|
Kel. 3
|
Kel. 4
|
|
|
Zat aktif
|
Paraffin liquid
|
Oleum Iecoris Asseli
|
|||
|
organoleptis
Bentuk
Bau
warna
Rasa
|
|||||
|
Cairan
kental
|
Sediaan
cair
|
Cairan
kental
|
Cairan
kental
|
||
|
Tidak
berbau
|
jeruk
|
minyak
ikan
|
Minyak
ikan
|
||
|
Putih
susu
|
orange
|
Putih-kuning
|
Putih
|
||
|
Sedikit
manis
|
manis
|
Amis-manis
|
Manis
|
||
|
pH
|
5,27
|
3,88
|
2,94
|
3,40
|
|
|
Viskositas
|
49,0%
|
18,8%
|
41,2%
|
60,9%
|
|
|
BJ
|
0,9557
|
0,95
|
0,94
|
0,98
|
|
|
Kestabilan
|
Tidak
stabil
|
Stabil
|
Stabil
|
Tidak
stabil
|
|
|
Tipe
emulsi
|
M/A
|
M/A
|
A/M
|
A/M
|
|
K. PEMBAHASAN
Pada
praktikum kali ini, praktikan diharuskan untuk membuat emulsi dengan dua zat
aktif yaitu paraffin liquid dan oleum iecoris asseli. Paraffin liquidum pada
umumnya digunakan sebagai laksativa, sementara oleum iecoris asseli digunakan
untuk memenuhi kebutuhan vitamin A dan D bagi tubuh. Selain itu, minyak ikan
dapat memperbaiki nafsu makan. Emulsi sendiri adalah campuran antara air dan
minyak. Seperti yang kita ketahui, air dan minyak tidak dapat dicampurkan
begitu saja, sehingga perlu adanya bantuan, yaitu emulgator. Dalam suatu
sediaan emulsi, emulgator berfungsi untuk menjaga kestabilan emulsi. Oleh
karena itu, pemilihan emulgator yang tepat merupakan suatu hal yang sangat
penting dalam pembuatan emulsi.
Pada
praktikum kali ini, emulgator yang digunakan untuk paraffin liquid adalah tween
75% dan span 25% untuk kelompok 1. Kelompok 2 tween 25% dan span 75%. Sementara
kelompok 3 menggunakan tween 80 1% dan CMC Na 1%. Kelompok 4 menggunakan tween
80 dengan konsentrasi 5% dan CMC Na 0,5%. Dalam pembuatan emulsi mnggunakan
campuran surfaktan seperti tween dan span, harus dihitung HLB butuh terlebih
dahulu. Ini digunakan untuk memperhitungkan apakah emulgator mampu mencampurkan
fase air dan minyak atau tidak.
Dalam
pembuatan emulsi paraffin liquid pada prinsipnya, paraffin harus dipanaskan
terlebih dahulu baik dalam fase minyak maupun fase air. Tujuannya adalah agara
emulgator dapat menyeimbangkan emulsi sehingga emulsi dapat tetap stabil.
Selain jenis emulgator, jumlah emulgator juga menentukan tipe emulsi pada hasil
akhir. Apabila menggunakan dua emulgator, maka konsentrasinya harus seimbang
agar minyak dan air dapat bercampur.
Dari
data yang diperoleh, emulsi kelompok satu ternyata tidak stabil. Hal ini dapat
disebabkan banyak faktor, antara lain penimbangan emulgator dan zat aktif yang
kurang sesuai. Jumlah emulgator yang tidak seimbang sehingga emulgator tidak
mampu mendispersi emulsi secara sempurna. Selain itu, proses pembuatan juga
mempengaruhi hasil akhir emulsi. Kesalahan pada saat pembuatan akan menyebabkan
emulsi tidak stabil dan cepat terpisah antara fase air dan fase minyak,
walaupun pada awalnya hasilnya bagus.
Dari
viskositas, diantara empat kelompok, kelompok 4 dan kelompok 2 memiliki hasil
viskositas yang berbeda jauh. Viskositas yang tinggi pada kelompok empat dapat
disebabkan penggunaan konsentrasi sorbitol yang tinggi. Selain itu, viskositas
yang tinggi dapat dipengaruhi oleh emulgator seperti CMC Na. CMC Na yang telah
dikembangkan dalam air akan membentuk koloidal yang juga dapat meningkatkan
viskositas. Semakin tinggi konsentrasi CMC Na yang digunakan, maka akan semakin
tinggi pula viskositasnya.
Sementara
pada kelompok dua tidak menggunakan sorbitol sehingga memiliki viskositas yang
rendah. Dari data yang ada, pH kelompok tiga paling rendah diantara keempat
kelompok lainnya. Hal ini dapat mempengaruhi komponen pada sediaan dan
memungkinkan emulsi menjadi tidak stabil dalam penyimpanan yang lama. pH yang
rendah dapat dipengaruhi oleh penambahan corigen seperti perasa dan pewarna.
Oleh karena itu, penmabahan corigen tersebut perlu diperhitungkan dengan baik
agar emulsi memiliki pH yang stabil atau mendekati stabil.
Dari
data yang ada, diperoleh bahwa emulsi minyak ikan kelompok empat tidak stabil.
Perlu diperhatikan kembali bahwa emulgator menjadi hal yang sangat penting
untuk diperhitungkan agar diperoleh emulsi yang stabil. pemilihan emulgator
yang tidak sesuai akan menyebabkan emulsi menjadi mudah pecah bahkan sesaat
setelah selesai dibuat. Apabila menggunakan zat aktif berupa minyak dengan
jumlah yang cukup banyak daripada jumlah air, maka akan lebih baik menggunakan
emulgator yang larut dalam air untuk menyeimbangkan kemampuan emulgator dalam
mendispersi emulsi. Begitu pula sebaliknya. Pada kelompok tiga, jumlah zat
aktif berupa minyak ternyata lebih sedikit daripada jumlah air, serta
menggunakan emulgator yang mudah larut dalam air. Hal ini akan menyebabkan
emulgator cenderung mengikat sesamanya dan membuat emulsi pecah atau memisah
antara fase minyak dan air.
Sementara
pada kelompok tiga, emulsi yang dihasilkan stabil karena konsentrasi emulgator
yang seimbang antara jumlah minyak dan air. Keadaan ini membuat emulgator mampu
mendispersi fase minyak dan air dengan baik dan emulsi menjadi tidak mudah memisah
setelah dilakukan pemanasan selama 5 menit dalam uji stabilitas emulsi.
Meskipun
begitu, hasil emulsi kelompok tiga juga tidak dapat dikatakan baik karena
emulsi sudah pecah sejak awal. Hal ini disebabkan proses pengerjaan yang kurang
pas. Pada pembuatan emulsi, fase minyak ataupun air tidak boleh dimasukkan
sedikit demi sedikit karena akan membuatnya sulit terdispersi dengan baik dan
menyebabkan emulsi rusak atau pecah. Pada pembuatannya baik fase minyak ataupun
air harus dituang sekaligus dan diaduk dengan cepat dan kuat agar dapat
terbentuk corpus emulsi berwarna putih susu. Sementara pada kelompok tiga warna
emulsinya adalah putih kekuningan.
Pada
pembuatan sediaan emulsi, tipe emulsi dipengaruhi oleh emulgator dan zat aktif
dari emulsi itu sendiri. Emulsi akan membentuk tipe A/M apabila fase minyak
lebih banyak dari fase air, begitu pula sebaliknya. Pemahaman mengenai dasar
emulsi, pembuatan, dan komponen pembentuk emulsi yang baik akan menghasilkan
emulsi yang stabil meskipun dalam penyimpanan jangka panjang,
L. KESIMPULAN
1. Emulsi
merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat dicampukan, biasanya
fase minyak dan fase air dan perlu adanya penambahan emulgator untuk
mendispersikannya.
2. Dosis
yang diberikan harus sesuai dengan usia pasien agar efek yang diperoleh sesuai.
3. Dari
evaluasi yang dilakukan oleh kelompok III diperoleh hasil sebagai berikut : emulsi
berupa cairan kental berwarna putih kekuningan, berbau khas minyak ikan, rasa
agak kecut-amis. Viskositas 41,2% dengan pH sebesar 2,94 termasuk sangat asam.
BJ : 0,94. Stabil dengan tipe emulsi A/M ( air dalam minyak).
M. DAFTAR PUSTAKA
Anief,
2006, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada
University Press, Jogjakarta
Ansel,
H,C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi Edisi IV, UI Press, Jakarta
Depkes
RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III,
Departemen kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Rowe,
2009, Handbook of Pharmaceutical
Excipient 6th Edition, Pharmaceutical Press, London
Semarang,
7 April 2014
Dosen Pengampu Praktikan
(Sisca
Devi, S.Farm.,Apt) Restu
Wulandari

Saya pernah mencoba 2 merk suplemen omega 3 , namun trigliserida saya hanya turun maksimum sampai 250 mg/dl, dan saya masih sering sakit kepala. Sampai akhirnya saya mengenal Nature EPA, saya mengonsumsinya dengan dosis 3×2 softgel/hari selama 2 minggu. hasilnya kadar trigliserida saya bisa turun hingga 200 mg/dl dan sakit kepala yang sering saya alami jauh berkurang.
BalasHapusAkhirnya saya menemukan produk yang tepat untuk mengatasi problem trigliserida saya. Saat ini saya mengonsumsi Nature EPA 2×2 softgel/hari, dan trigliserida saya tetap stabil. Tentu saja dengan tetap menjaga pola makan dengan ketat.
▷ How to Play the 777 Casino site for free❷ How to Play the 777 Casino site for
BalasHapusPlay 777 casino game online and luckyclub enjoy real casino money. Register with Lucky Club and get a deposit bonus of up to ₹5,000 for