Sabtu, 21 Februari 2015

Pewarnaan Deferensial

PRAKTIKUM VIII :
PEWARNAAN DEFERENSIAL

A.     TUJUAN
Mahasiswa mampu memahai morfologi bakteri melalui pewarnaan deferensial dengan baik dan benar.

B.     DASAR TEORI
Mikroorganisme yang ada di alam ini memiliki struktur, morfologi, dan sifat-sifat yang berbeda dan khas, begitu juga dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah diindentifikasi adalah dengan cara metode pewarnaan. Hal tersebut berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pewarnaan ( Dwidjoseputro, 2005).
Pada umumnya bakteri bersifat tembus cahaya. Hal ini disebabkan karena banyak bakteri yang tidak mempunyai zat warna (Waluyo, 2007).
Pewarnaan atau pengecatan terhadap mikroba banyak dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Tujuan dari pewarnaan adalah :
a.       Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi ataupun fungi.
b.      Memperjelas ukuran dan bentuk bakteri.
c.       Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan juga struktur dalam jasad.
d.      Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan kimia yang ada akan diketahui (Suriawiria, 1999).
Ada tiga macam prosedur pewarnaan yaitu pewarnaan sederhana, pewarnaan deferensial, dan pewarnaan khusus ( Pratiwi, 2008).

C.     ALAT dan BAHAN
ALAT :
1.      Mikroskop
2.      Lampu spiritus
3.      Minyak imersi
4.      Gelas benda
BAHAN :
1.      Larutan Kristal violet
2.      Larutan iodine
3.      Larutan alkohol aceton
4.      Safranin

D.    CARA KERJA
1.      Pewarnaan gram Bacillus subtilis
Gelas benda dibersihkan sampai tidak berlemak
↓
Biakan B. subtilis diambil secara aseptis menggunakan ose bulat
↓
Dilakukan fiksasi dengan cara melewatkan gelas benda beberapa kali di atas nyala api spiritus
↓
Diteteskan Kristal violet 2 – 3 tetes di atas apusan, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest hingga cat hilang, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan dengan lugol iodine 2 – 3 tetes, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan alkohol aceton di atas apusan, dibiarkan 30 detik
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest dan dikeringkan denga tisu
↓
Ditetskan safranin dan dibiarkan 2 menit
↓
Gelas benda dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan minyak imersi di bagian sisi preparat
↓
Diamati melalui mikroskop dengan perbesaran 1000x
↓
Hasil digambar

2.      Pewarnaan gram E. coli
Gelas benda dibersihkan sampai tidak berlemak
↓
Biakan E. coli diambil secara aseptis menggunakan ose bulat
↓
Dilakukan fiksasi dengan cara melewatkan gelas benda beberapa kali di atas nyala api spiritus
↓
Diteteskan Kristal violet 2 – 3 tetes di atas apusan, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest hingga cat hilang, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan dengan lugol iodine 2 – 3 tetes, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan alkohol aceton di atas apusan, dibiarkan 30 detik
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest dan dikeringkan denga tisu
↓
Ditetskan safranin dan dibiarkan 2 menit
↓
Gelas benda dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan minyak imersi di bagian sisi preparat
↓
Diamati melalui mikroskop dengan perbesaran 1000x
↓
Hasil digambar

3.      Pewarnaan gram S. aureus
Gelas benda dibersihkan sampai tidak berlemak
↓
Biakan S. aureus diambil secara aseptis menggunakan ose bulat
↓
Dilakukan fiksasi dengan cara melewatkan gelas benda beberapa kali di atas nyala api spiritus
↓
Diteteskan Kristal violet 2 – 3 tetes di atas apusan, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest hingga cat hilang, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan dengan lugol iodine 2 – 3 tetes, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan alkohol aceton di atas apusan, dibiarkan 30 detik
↓
Gelas benda dicuci dengan aquadest dan dikeringkan denga tisu
↓
Ditetskan safranin dan dibiarkan 2 menit
↓
Gelas benda dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan minyak imersi di bagian sisi preparat
↓
Diamati melalui mikroskop dengan perbesaran 1000x
↓
Hasil digambar







E.     PEMBAHASAN
Praktikum kali ini, praktikan diharuskan melakukan pewarnaan gram terhadap Bacillus subtilis, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus menggunakan zat warna safranin, larutan alkohol aceton, larutan Kristal violet, dan larutan iodine.
Bacillus subtilis merupakan bakteri Gram-positif yang berbentuk batang, dan secara alami sering ditemukan di tanah dan vegetasi. Bacillus subtilis tumbuh di berbagai mesophilic suhu berkisar 25-35 derajat Celsius. Bacillus subtilis juga telah berevolusi sehingga dapat hidup walaupun di bawah kondisi keras dan lebih cepat mendapatkan perlindungan terhadap stres situasi seperti kondisi pH rendah (asam), bersifat alkali, osmosa, atau kondisi oksidatif, dan panas atau etanol. Bakteri ini hanya memiliki satu molekul DNA yang berisi seperangkat set kromosom. Beberapa keunggulan dari bakteri ini adalah mampu mensekresikan antibiotik dalam jumlah besar ke luar dari sel.
Sedangkan Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteraceae yang termasuk Gram negatif dan berbentuk batang yang fermentatif. E. coli hidup dalam jumlah besar di dalam usus manusia, yaitu membantu sistem pencernaan manusia dan melindunginya dari bakteri patogen. Akan tetapi pada noda baru dari E. coli merupakan patogen berbahaya yang menyebabkan penyakit diare dan sindrom diare lanjutan serta hemolitik uremik. Peranan yang mengguntungkan adalah dapat dijadikan percobaan limbah di air, indikator pada level pencemaran air serta mendeteksi patogen pada feses manusia yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Endospore adalah organisme yang dibentuk dalam kondisi yang stres karena kurang nutrisi, yang memiliki kemungkinan untuk tetap berlanjut di lingkungan sampai kondisi menjadi baik
Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S. aureus pada saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier. Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang.
Dalam proses pewarnaan perlu dilakukan fiksasi dengan tujuan untuk pelekatan bakteri sehingga pada saat dilakukan pencucian tidak ikut tercuci dan tetap berada pada gelas benda. Dengan begitu bakteri yang ingin diamati dapat dilihat melalui mikroskop.
Setelah diamati di bawah mikroskop, dapat dilihat bentuk dari bakteri-bakteri tersebut serta sifatnya. Dari pengamatan tersebut diketahui bahwa Bacillus subtilis merupakan gram positif karena berwarna ungu. E. coli merupakan gram negative dengan ditunjukkannya warna kemerahan pada bakteri. Sedangkan pada S. aureus warnanya merah muda keunguan.
Pewarnaan gram memang lenih sulit dan rumit daripada pewarnaan sederhana, namun kelebihannya kita dapat mengetahui sifat-sifat bakteri disamping mengetahui bentuk dari bakteri tersebut.







F.      EVALUASI
i.                     Pewarnaan gram B. subtilis
 









ii.                   Pewarnaan gram E. coli

















iii. Pewarnaan gram S. aureus










G.     KESIMPULAN
Mahasiswa telah mampu melakukan pewarnaan gram terhadap B. subtilis, E. coli, S. aureus menggunakan larutan Kristal violet, larutan iodine, larutan alkhol aceton, dan zat warna safranin melalui mikroskop dengan perbesaran 1000X dengan baik dan benar.









H.     LAMPIRAN
Hasil pengamatan terlampir

I.        DAFTAR PUSTAKA
-         Dwidjoseputro, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta
-         Pratiwi, 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta
-         Suriawiria, 1999, Mikrobiologi, Universitas Terbuka, Jakarta
-         Waluyo, 2007, Mikrobiologi Umum, UMM Press, Malang


Semarang, 28 Maret 2014
Dosen pengampu                                                             Praktikan




Dra. M.G. Isworo Rukmi, MKes.                                             Restu Wulandari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar