PRAKTIKUM
VIII :
PEWARNAAN
DEFERENSIAL
A. TUJUAN
Mahasiswa mampu
memahai morfologi bakteri melalui pewarnaan deferensial dengan baik dan benar.
B.
DASAR TEORI
Mikroorganisme
yang ada di alam ini memiliki struktur, morfologi, dan sifat-sifat yang berbeda
dan khas, begitu juga dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna
dan kontras dengan air, dimana sel-sel bakteri yang ada disuspensikan. Salah
satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah diindentifikasi
adalah dengan cara metode pewarnaan. Hal tersebut berfungsi untuk mengetahui
sifat-sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui
serangkaian pewarnaan ( Dwidjoseputro, 2005).
Pada umumnya bakteri bersifat tembus cahaya. Hal ini
disebabkan karena banyak bakteri yang tidak mempunyai zat warna (Waluyo, 2007).
Pewarnaan atau
pengecatan terhadap mikroba banyak dilakukan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Tujuan
dari pewarnaan adalah :
a. Mempermudah
melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi ataupun fungi.
b. Memperjelas
ukuran dan bentuk bakteri.
c. Melihat
struktur luar dan kalau memungkinkan juga struktur dalam jasad.
d. Melihat
reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan
kimia yang ada akan diketahui (Suriawiria, 1999).
Ada tiga macam prosedur pewarnaan yaitu pewarnaan
sederhana, pewarnaan deferensial, dan pewarnaan khusus ( Pratiwi, 2008).
C. ALAT dan BAHAN
ALAT :
1. Mikroskop
2. Lampu
spiritus
3. Minyak
imersi
4. Gelas
benda
BAHAN :
1. Larutan
Kristal violet
2. Larutan
iodine
3. Larutan
alkohol aceton
4. Safranin
D. CARA KERJA
1.
Pewarnaan
gram Bacillus subtilis
Gelas benda
dibersihkan sampai tidak berlemak
↓
Biakan B.
subtilis diambil secara aseptis menggunakan ose bulat
↓
Dilakukan
fiksasi dengan cara melewatkan gelas benda beberapa kali di atas nyala api
spiritus
↓
Diteteskan
Kristal violet 2 – 3 tetes di atas apusan, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest hingga cat hilang, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
dengan lugol iodine 2 – 3 tetes, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
alkohol aceton di atas apusan, dibiarkan 30 detik
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest dan dikeringkan denga tisu
↓
Ditetskan
safranin dan dibiarkan 2 menit
↓
Gelas benda
dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
minyak imersi di bagian sisi preparat
↓
Diamati melalui
mikroskop dengan perbesaran 1000x
↓
Hasil digambar
2.
Pewarnaan
gram E. coli
Gelas benda
dibersihkan sampai tidak berlemak
↓
Biakan E. coli
diambil secara aseptis menggunakan ose bulat
↓
Dilakukan
fiksasi dengan cara melewatkan gelas benda beberapa kali di atas nyala api
spiritus
↓
Diteteskan
Kristal violet 2 – 3 tetes di atas apusan, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest hingga cat hilang, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
dengan lugol iodine 2 – 3 tetes, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
alkohol aceton di atas apusan, dibiarkan 30 detik
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest dan dikeringkan denga tisu
↓
Ditetskan
safranin dan dibiarkan 2 menit
↓
Gelas benda
dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
minyak imersi di bagian sisi preparat
↓
Diamati melalui
mikroskop dengan perbesaran 1000x
↓
Hasil digambar
3.
Pewarnaan
gram S. aureus
Gelas benda
dibersihkan sampai tidak berlemak
↓
Biakan S. aureus
diambil secara aseptis menggunakan ose bulat
↓
Dilakukan
fiksasi dengan cara melewatkan gelas benda beberapa kali di atas nyala api
spiritus
↓
Diteteskan
Kristal violet 2 – 3 tetes di atas apusan, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest hingga cat hilang, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
dengan lugol iodine 2 – 3 tetes, dibiarkan 1 menit
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest, dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
alkohol aceton di atas apusan, dibiarkan 30 detik
↓
Gelas benda
dicuci dengan aquadest dan dikeringkan denga tisu
↓
Ditetskan
safranin dan dibiarkan 2 menit
↓
Gelas benda
dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu
↓
Diteteskan
minyak imersi di bagian sisi preparat
↓
Diamati melalui
mikroskop dengan perbesaran 1000x
↓
Hasil digambar
E. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini, praktikan diharuskan melakukan
pewarnaan gram terhadap Bacillus subtilis, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus
menggunakan zat warna safranin, larutan alkohol aceton, larutan Kristal violet,
dan larutan iodine.
Bacillus subtilis merupakan
bakteri Gram-positif yang berbentuk batang, dan secara alami sering ditemukan
di tanah dan vegetasi. Bacillus
subtilis tumbuh di berbagai
mesophilic suhu berkisar 25-35 derajat Celsius. Bacillus subtilis juga
telah berevolusi sehingga dapat hidup walaupun di bawah kondisi keras dan lebih
cepat mendapatkan perlindungan terhadap stres situasi seperti kondisi pH rendah
(asam), bersifat alkali, osmosa, atau kondisi oksidatif, dan panas atau etanol.
Bakteri ini hanya memiliki satu molekul DNA yang berisi seperangkat set
kromosom. Beberapa keunggulan dari bakteri ini adalah mampu mensekresikan
antibiotik dalam jumlah besar ke luar dari sel.
Sedangkan Escherichia
coli termasuk dalam famili Enterobacteraceae yang termasuk Gram
negatif dan berbentuk batang yang fermentatif. E. coli hidup dalam
jumlah besar di dalam usus manusia, yaitu membantu sistem pencernaan manusia
dan melindunginya dari bakteri patogen. Akan tetapi pada noda baru dari E.
coli merupakan patogen berbahaya yang menyebabkan penyakit diare dan
sindrom diare lanjutan serta hemolitik uremik. Peranan yang mengguntungkan
adalah dapat dijadikan percobaan limbah di air, indikator pada level pencemaran
air serta mendeteksi patogen pada feses manusia yang disebabkan oleh Salmonella
typhi. Endospore adalah organisme yang dibentuk dalam kondisi yang stres
karena kurang nutrisi, yang memiliki kemungkinan untuk tetap berlanjut di
lingkungan sampai kondisi menjadi baik
Staphylococcus
aureus
(S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan
pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil,
umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0
µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan
waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini
biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S.
aureus pada saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang
menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier.
Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya
perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid
atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang.
Dalam proses pewarnaan
perlu dilakukan fiksasi dengan tujuan untuk pelekatan bakteri sehingga pada
saat dilakukan pencucian tidak ikut tercuci dan tetap berada pada gelas benda.
Dengan begitu bakteri yang ingin diamati dapat dilihat melalui mikroskop.
Setelah diamati di bawah
mikroskop, dapat dilihat bentuk dari bakteri-bakteri tersebut serta sifatnya.
Dari pengamatan tersebut diketahui bahwa Bacillus subtilis merupakan gram
positif karena berwarna ungu. E. coli merupakan gram negative dengan
ditunjukkannya warna kemerahan pada bakteri. Sedangkan pada S. aureus warnanya
merah muda keunguan.
Pewarnaan gram memang
lenih sulit dan rumit daripada pewarnaan sederhana, namun kelebihannya kita
dapat mengetahui sifat-sifat bakteri disamping mengetahui bentuk dari bakteri
tersebut.
F.
EVALUASI
i.
Pewarnaan gram B. subtilis
ii.
Pewarnaan gram E. coli
Pewarnaan gram E. coli
iii.
Pewarnaan gram S.
aureus
Pewarnaan gram S.
aureus
G. KESIMPULAN
Mahasiswa telah mampu
melakukan pewarnaan gram terhadap B. subtilis, E. coli, S. aureus menggunakan
larutan Kristal violet, larutan iodine, larutan alkhol aceton, dan zat warna
safranin melalui mikroskop dengan perbesaran 1000X dengan baik dan benar.
H. LAMPIRAN
Hasil pengamatan
terlampir
I.
DAFTAR PUSTAKA
-
Dwidjoseputro, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan,
Jakarta
-
Pratiwi, 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta
-
Suriawiria, 1999, Mikrobiologi, Universitas Terbuka, Jakarta
-
Waluyo, 2007, Mikrobiologi Umum, UMM Press, Malang
Semarang, 28 Maret 2014
Dosen pengampu Praktikan
Dra.
M.G. Isworo Rukmi, MKes. Restu
Wulandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar