Sabtu, 21 Februari 2015

MORFOLOGI JAMUR

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
MORFOLOGI JAMUR

A.     TUJUAN
Mahasiswa dapat memahami morfologi jamur meliputi sifat, perkembangbiakan, struktur tubuh, dan jenis-jenisnya secara mikroskopis.

B.     DASAR TEORI
Dunia mikroba terdiri dari Monera ( virus dan sianobakteri ), Protista, dan fungi. Mikroorganisme tersebut diantaranya adalah bakteri, jamur, dan virus. Di dalam kehidupannya beberapa mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur selalu dipengaruhi oleh lingkungannya, dan untuk mempertahankan hidup, mikroorganisme melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi tersebut dapat mempengaruhi morfologi dari mikroorganisme itu sendiri. Untuk mengidentifikasi suatu mikroorganisme, dapat dilakukan dengan mengetahui morfologi dan struktur anatomi dari mikroorganisme tersebut (Waluyo, 2004).
Jamur adalah organisme yang selnya berinti sejati atau eukariotik, berbentuk benang, bercabang, tidak berklorofil, dinding selnya mengandung khitin atau selulosa, atau keduanya, heterotrof, absortif, dan sebagian besar tubuhnya terdiri dari bagian vegetatif berupa hifa dan generatif yaitu spora (Volk and Wheeler, 1993).
Hifa pada jamur dapat berfungsi sebagai pembentuk alat reproduksi da nada juga yang tumbuh menjadi konidiofor yakni pembawa konidia yang dapat menghasilkan konidium. Kumpulan hifa membentuk jaringan benang yang dikenal sebagai miselium. Miselium inilah yang tumbuh menyebar diatas substrat dan berfungsi sebagai penyerap makanan dari lingkungan (Syamsuri, 2004).
Jamur uniseluler maupun multiseluler dapat berkembangbiak dengan cara seksual dan aseksual. Pada jamur uniseluler, perkembangbiakkan secara seksual akan membentuk tunas, dan secara aseksual membentuk spora askus (Pelczar, 1999).
Pada jamur multiseluler, perkembangbiakkan secara seksual melalui peleburan inti jantan dan inti betina sehingga membentuk spora askus. Sedangkan secara aseksual dengan cara memutuskan benang hifa dan membentuk spora aseksual yaitu zoopora, endospora, dan konidia (Coyne,1999).

C.     ALAT dan BAHAN
Morfologi Kapang :
ALAT :                                                                                               
1.      Jarum tanam tajam 
2.      Jarum preparat                  
3.      Gelas benda                      
4.      Kaca penutup
5.      Asam laktat 3%
6.      Mikroskop
7.      Lampu spiritus
BAHAN :
1.      Biakan murni Aspergillus sp. pada medium TEA dalam cawan petri
2.      Biakan murni Rhizophus sp. pada tempe






Morfologi Khamir :
ALAT :
1.      Gelas benda dan kaca penutup
2.      Ose bulat
3.      Mikroskop
4.      Lampu spiritus
BAHAN :
1.      Biakan Saccharomyces sp. pada medium cair

D.     CARA KERJA
Morfologi Kapang :
Aspergillus sp.
Dibersihkan gelas benda dengan alkohol hingga bebas lemak dan debu
↓
Diteteskan asam laktat 3% di bagian tengah gelas benda
↓
Diambil sedikit biakkan Aspergillus sp. di cawan dengan jarum tanam tajam
↓
Diletakkan hati-hati di dalam larutan as.laktat 3%
↓
Diuraikan hati-hati menggunakan jarum tanam tajam
↓
Ditutup hati-hati dengan kaca penutup, dipastikan tidak ada gelembung udara
↓
Ditambahkan minyak imersi jika perlu
↓
Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x


Rhizophus sp.
Dibersihkan gelas benda dengan alkohol hingga bebas lemak dan debu
↓
Diteteskan larutan asam laktat 3% di bagian tengah gelas benda
↓
Diambil sedikit biakkan Rhizophus sp. pada tempe menggunakan jarum tanam tajam
↓
Diletakkan hati-hati di bagian tengah gelas benda
↓
Diuraikan hati-hati dengan jarum tanam tajam
↓
Diteteskan minyak imersi bila perlu agar tidak ada gelembung udara
↓
Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x

Morfologi Khamir (Yeast)
Saccharomyces sp.
Dibersihkan gelas benda dengan alkohol sampai bebas lemak dan debu
↓
Diambil sedikit biakkan Saccharomyces sp. pada medium cair dengan ose bulat
↓
Diletakkan pada gelas benda dan ditutup dengan kaca penutup
↓
Diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x



E.      PEMBAHASAN
Pada praktikum mikrobiologi kali ini, praktikan diminta untuk mengamati morfologi jamur secara mikroskopis. Jamur yang diamati yakni Aspergillus sp., Rhizophus sp., dan Saccharomyces sp.. Aspergillus sp. dan Rhizophus sp. merupakan jenis kapang.
Kapang termasuk fungi multiseluler dan memiliki miselia atau filamen. Pertumbuhannya dalam makanan sangat jelas yakni berbentuk seperti kapas. Pada umumnya fungi tidak berklorofil sehingga tidak dapat memproduksi makanannya sendiri seperti tanaman yang lain. Fungi memperoleh makanan dengan mengambil nutrisi dari tanaman atau makanan tempatnya hidup. Kapang hidup sebagai parasit dan memiliki dua macam hifa yang memiliki fungsi yang berbeda. Hifa fertile digunakan untuk berkembang biak dan membentuk buah badan, sementara hifa vegetative digunakan untuk menyerap nutrisi dari lingkungan.
Setelah diamati melalui mikroskop dengan perbesaran 400x dapat diketahui bahwa Aspergillus sp. dan Rhizophus sp. memiliki bentuk yang berbeda. Pada Aspergillus sp. terdapat sel kaki, konidiofor yang berbentuk seperti batang, vesikel, kemudian konidia. Pada Rhizophus sp., bentuknya menggerombol dan bercabang. Pada setiap cabangnya memiliki sporangiofor dan sporangium masing-masing namun dalam satu vesikel. Rhizophus sp. ada yang hidup di roti yang biasa disebut kapang roti dan hidup di tempe. Pada roti, jamur ini bersifat merusak roti. Warnanya gelap atau abu-abu pekat jika sudah tua dan pertumbuhannya sangat cepat. Selain merusak makanan, ada pula jenis Rhizophus yang digunakan untuk memproduksi makanan seperti tempe dan oncom.
Reproduksi pada Rhizophus sp. yaitu secara seksual dan aseksual. Secara asksual jamur ini akan membentuk spongiospora dan secara seksual membentuk zigospora. Jamur ini bersifat heterithallik dimana proses reproduksinya membutuhkan dua thallus yang berbada yakni thallus positif dan thallus negativ.
Selain kapang, praktikan juga mengamati morfologi khamir yakni Saccharomyces sp. khamir termasuk cendawan, tetapi berbeda dengan kapang, karena sifatnya yang uniseluler. Khamir berkembang biak denga membentuk pertunasan dan pertumbuhannya relatif lebih cepat daripada kapang.
Khamir memiliki bentuk yang bermacam-macam yaitu bulat, oval, silinder dan ogival yakni bulat panjang dengan salah satu ujung runcing, segitiga melengkung, berbentuk bantat, bentuk apical atau lemon membentuk pseudomeselium dan sebagainya.
Dari yang praktikan amati melalui mikroskop dengan perbesaran 400x, diperoleh Saccharomyces sp. berbentuk bulat menggerombol, ada pula yang menyebar. Khamir juga berkembang biak secara seksual dengan membentuk askospora. Selain itu khamir tidak dilengkapi flagellum atau organ penggerak lainnya.

F.      HASIL PENGAMATAN
Data terlampir

G.     KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa kapang dan khamir memilki morfologi yang berbeda. Kapang multiseluler, sedangkan khamir uniseluler. Kapang berkembang biak membentuk buah badan sementara khamir membentuk pertunasan. Meskipun begitu, kapang dan khamir memiliki kesamaan yaitu tidak berklorofil dan bertahan hidup dengan mengambil nutrisi dari lingkungannya.


H.     DAFTAR PUSTAKA
-         Coyne, S, 1999, Soil Microbiology : An Exploratory Approach, Delmar Publisher, USA
-         Pelczar, J, 1999, Microbiology, MC Graw Hill, USA
-         Syamsuri, 2004, Biologi, Erlangga, Jakarta
-         Volk and Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar, Erlangga, Jakarta
-         Waluyo, 2004, Mikrobiologi Umum, UMM Press, Malang
-          


Semarang, 21 Maret 2014
Dosen Pengampu                                                                      Praktikan


Dra. M.G. Isworo Rukmi, MKes.                                                         Restu Wulandari
  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar