Minggu, 05 April 2015

kempa langsung nifedipin



PEMBUATAN TABLET METODE KEMPA LANGSUNG
NIFEDIPINE


A.    TUJUAN
1.      Mahasiswa dapat membuat sediaan tablet menggunakan metode kempa langsung dengan baik dan benar
2.      Mahasiswa dapat membuat formulasi sediaan tablet serta dapat melakukan perubahan formula untuk menghasilkan tablet yang lebih baik
3.      Mahasiswa dapat melakukan pengujian pada serbuk atau tablet dengan baik
4.      Mahasiswa dapat menganalisis permasalahan yang ada beserta cara penyelesaiannya
5.      Mahasiswa dapat membuat kemasan produk yang menarik dan informatif.

B.     DASAR TEORI
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan tablet dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa (Depkes RI, 1995).
Persyaratan sediaan tablet.
Beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh sediaan tablet yang baik, antara lain :
1.      Kuat dan tahan akan gesekan yang terjadi pada saat pentabletan, pengemasan, transportasi, dan penggunaan.
2.      Kadar obat harus terpenuhi, sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia.
3.      Memenuhi uji keseragaman bobot dan kadar zat aktif di dalam tablet.
4.      Memenuhi uji ketersediaan hayati. Pada tahap awal, kecepatan dan banyaknya obat yang dilepaskan dari tablet, dapat ditentukan oleh waktu hancur tablet.
5.      Penampilan yang baik dan menarik, oleh karena itu seringkali diperlukan bahan pewarna, perasa, dan pengaroma.
6.      Dapat mempertahankan sifat-sifatnya, yaitu tablet harus tetap akseptabel, aman, dan manjur bila digunakan (Hadisoewignyo, dkk, 2013).
Keuntungan sediaan tablet.
Bentuk sediaan tablet memiliki beberapa keuntungan, antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Memiliki ketepatan dosis dalam tiap tablet atau dalam tiap unit pemakaian.
2.      Tablet lebih stabil dan tidak mudah ditumbuhi mikroba karena berada dalam bentuk kering dengan kadar air yang rendah.
3.      Mudah dalam pengemasan dan transportasi.
4.      Tablet dapat dibawa dengan mudah.
5.      Bau, rasa, dan warna yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan penyalutan tablet.
6.      Tablet dapat digunakan dengan mudah tanpa bantuan tenaga medis.
7.      Dibandingkan dengan kapsul, tablet lebih tamper prof (sulit dipasulkan) (Hadisoewignyo, dkk, 2013).
Kerugian sediaan tablet.
Selain keuntungan yang dimiliki sediaan tablet, terdapat pula beberapa kerugian bentuk sediaan tablet, yakni :
1.      Bahan aktif dengan dosis besar sulit dibuat tablet karena akan menghasilkan bentuk tablet yang terlalu besar.
2.      Terdapat kendala dalam pembuatan formulasi dengan zat aktif yang sulit terbasahi, tidak larut, serta memiliki disolusi yang buruk.
3.      Mula kerja sediaan tablet lebih lama dibandingkan dengan kapsul, injeksi, atau sirup.
4.      Kesulitan menelan pada anak-anak, pasien dengan kondisi khusus atau lansia (Hadisoewignyo, dkk, 2013).
Komponen sediaan tablet.
Komponen sediaan tablet terdiri dari zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat, disintegran, dan lubrikan. Selain itu, tablet juga dapat mengandung bahan pewarna yang diizinkan, bahan pengaroma dan bahan pemanis.
1.      Bahan pengisi ditambahkan jika jumlah zat aktif sedikit atau sulit dikempa. Contohnya laktosa, pati, kalsium fosfat dwibasa, dan selulosa mikrokristal.
2.      Bahan pengikat memberikan daya adesi pada massa serbuk sewaktu digranulasi serta menambah daya kohesi pada bahan pengisi. Misalnya gom akasia, gelatin, sukrosa, povidon, metilselulosa, CMC, pasta pati, dan lain-lain.
3.      Bahan penghancur membantu tablet agar dapat hancur setelah ditelan. Contohnya pati, pati dan selulosa yang dimodifikasi secara kimia, asam alginate, selulosa mikrokristal, dan povidon sambung-silang.
4.      Bahan lubrikan mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Contohnya asam stearate, campuran senyawa asam stearate, minyak nabati terhidrogenasi dan talcum. Umumnya lubrikan bersifat hidrofobik.
5.      Glidan adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk, umumnya digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Contohnya silica pirogenik koloidal.
6.      Bahan pewarna dan lak ditambahkan untuk memperoleh nilai estetika atau untuk memberi identitas produk (Syamsuni, 2007)
Tabletasi langsung atau kempa langsung adalah pencetakan bahan obat atas campuran bahan pembantu berbentuk serbuk tanpa proses pengolahan awal. Keuntungan dari metode ini adalah bahwa bahan obat yang peka lembab dan panas, yang stabilitasnya terganggu akibat granulasi dapat dibuat menjadi tablet. Tetapi hanya sedikit obat yang dibuat dengan tabletasi langsung ini, tanpa pengolahan awal dan tanpa bahan pembantu.
Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses pembuatan tablet dengan metode kempa langsung ini adalah (1)memiliki sifat alir yang baik; (2)memiliki kompresibilitas baik; (3)kapasitas yang tinggi yang menggambarkan kemampuan untuk menahan sifat-sifat kompaksinya saat dicampur dengan bahan aktif; (4)memiliki distribusi ukuran partikel yang baik, untuk menghindari terjadinya segregasi; (5)memiliki densitas ruahan yang tinggi; (6)reprodusibel dalam produksi baik, untuk meminimumkan keseragaman antar-batch (Hadisoewignyo, dkk, 2013).   
Bahan pembantu sebaiknya dapat meningkatkan sifat aliran dan melalui daya ikat tambahannya memungkinkan pencetakan serbuk dan menyebabkan kompaknya cetakan. Metode cetak langsung umumnya digunakan untuk zat-zat aktif yang termolabil, memiliki daya larut yang buruk dengan pelarut dan terutama memiliki dosis yang kecil untuk zat aktifnya. Kekurangan dari metode cetak langsung dengan dosis kecil adalah tidak tercampur merata dengan komponen lainnya.
Sedangkan untuk zat aktif dosis besar tidak dapat digunakan karena gaya tarik menarik antar molekulnya lemah atau diselimuti oleh gas yang diabsorbsi dan cenderung untuk menghalangi kekompakan tablet. Oleh karena itu, penggunaan pengisi pada metode ini sangat berperan penting. Pengisi yang digunkan adalah bahan yang bersifat netral, misalnya Avicel PH 102 (Ansel, 2008).
Selain itu, eksipien yang digunakan adalah,
a.       Amilum, sebagai penghancur, dipilih karena amilum merupakan bahan yang cepat kontak dengan cairan lambung sehingga tablet dapat cepat dihancurkan dengan melepaskan zat aktif.
b.      Magnesium stearate, sebagai lubrikan, digunakan untuk mengurangi gesekan antara obat dengan mesin cetak. Dipilih karena Mg. stearat merupakan lubrikan yang baik daripada asam-asamnya.
c.       Talkum, sebagai pelicin, digunkan untuk mengurangi keterikatan antar partikel pada saat dicetak sehingga dapat memberikan sifat alir yang baik (Syamsuni, 2007).
Tablet kempa langsung digunakan untuk pengobatan local dan sistemik. Untuk pengobatan local, misalnya tablet vagina dan lozenges. Sedangkan untuk pengobatan sistemik contohnya tablet bukal, tablet sublingual, tablet implantasi (Anief, 2006).
            Keuntungan metode cetak langsung adalah sebagai berikut :
1.      Merupakan tahap produksi tablet yang paling singkat.
2.      Keperluan akan alat, ruangan, waktu dan daya manusia lebih sedikit
3.      Dapat meningkatkan disintegrasi zat aktif karena tablet langsung mengalami distegrasi menjadi tablet.
4.      Metode ini dapat mengeliminasi panas dan lembap yang terjadi pada proses pembuatan dengan granulasi basah dan mengurangi terjadinya tekanan tinggi seperti yang terjadi pada proses granulasi kering.
Kerugian metode cetak langsung adalah sebagai berikut :
1.      Harga bahan tambahan yang dibutuhkan cukup mahal karena membutuhkan eksipien dengan sifat alir, kompresibilitas, serta ikatan antar partikel yang baik.
2.      Bahan aktif dan bahan tambahan harus memiliki ukuran partikel yang mirip agar tablet yang dihasilkan memiliki keseragaman kandungan yang baik.
3.      Kesulitan dalam mendistribusikan zat aktif yang memiliki dosis besar dengan kompresibilitas buruk (Hadisoewignyo, dkk, 2013).








C.   
R/           Nifedipin                     10mg
            Explotab                      4%
            Aerosil                         0,3%
            Talcum                        1%
            Avicel PH 102 ad       180mg


 
FORMULA








D.    PEMERIAN
1.      Nifedipine
Nama zat aktif      : nifedipin
Rumus molekul     : C17H18N2O6
Bobot molekul      : 364,34
Pemerian               : serbuk kuning, terurai oleh cahaya langsung
Kelarutan                : praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton dan kloroform, kurang larut dalam etanol.
Indikasi                   : hipertensi esensil
Stabilitas                 : dibawah pengaruh cahaya menglami tata ulang fitokimia akan berubah.
Penyimpanan          : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya (Depkes RI, 1995).

2.      Explotab
Nama lain             : sodium starch glycolate, carboxymethyl starch.
Organoleptis         : white or almost white free-flowing, very hygroscopic powder.
Kelarutan              : practically insoluble in methylene chloride. It gives translucent suspension in water.
Penggunaan           : desintegrant.
Kadar                    : 2 – 8%
Penyimpanan        : should be stored in well-closed container (Rowe, 2009).

3.      Aerosil
Organoleptis           : silica dalam bentuk mikroskopis dengan ukuran partikel sekitar 15mm, serbuk ringan, putih kebiruan, tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan                : praktis tidak larut dalam pelarut organic, air, dan asam kecuali hydrofluoric acid, larut dalam larutan panas alkali hidroksida, kelarutan dalam air 150 mg/L
Penggunaan           : glidan
Kadar                    : 0,1 – 0,5% (Rowe, 2009)

4.      Talcum
Nama lain              : talk
Organoleptis           : serbuk hablur sangat halus, licin, mudah melekat pada kulit, bebas dari butiran: warna putih, atau putih kelabu
Kelarutan              : tidak larut dalam hampir semua pelarut
Penggunaan           : pelincir
Kadar                    : 1 – 10%
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1979)

5.      Avicel PH 102
Nama lain                    : Avicel PH, Celex, Crystalline Cellulose
Pemerian                       : microcrystalline cellulose is a purified partially depolymerized cellulose that occurs as a white odorless, tasteless, crystalline powder composed of porous particles. It is commercially available in different partied sized and moisture grades that have different properties and applications.
Kelarutan                      : slightly soluble in 5% w/v sodium hydroxide solution; practically in soluble in waters, dilute acid, and most organic solvent.
Penggunaan                 : tablet binder
Kadar                          : 20 – 90%
Penyimpanan               : dalam wadah tertutup rapat (Rowe, 2009)

A.    CARA KERJA
Diayak aerosil
↓
Ditimbang aerosil 216 mg
↓
Ditimbang talcum 720 mg
↓
Ditimbang explotab 2880 mg
↓
Ditimbang avicel PH 102 64184 mg
↓
Ditimbang nifedipin 4000 mg
↓
Dicampur semua bahan, diaduk hingga homogen
↓
Dilakukan pencetakan tablet dengan bobot 180mg ±5%




B.     PENGUJIAN TABLET
1.      Uji Waktu Alir
Ditimbang 100 gr serbuk
↓
Dimasukkan flow meter
↓
Ditutup bagian bawah alat
↓
Dilepas tutup, bersamaan dengan menghidupkan stopwatch
↓
Dicatat waktu untuk mengalirkan 100 gr serbuk
↓
Diluangi sebanyak 3 kali

2.      Uji Waktu Hancur
Disiapkan alat uji
↓
Dipanaskan air dengan suhu 37oC ±2oC
↓
Dimasukkan 6 tablet (Tiap tabung 1 tablet)
↓
Dinyalakan stopwatch secara bersamaan
↓
Dicatat waktu hancur tiap tablet





3.      Uji Kekerasan Tablet
Diletakkan tablet dengan posisi tegak pada landasan
↓
Diatur jarak landasan dan baut yang ada diatasnya
sehingga tablet pada posisi berhimpit
↓
Diatur skala kekerasan pada posisi nol
↓
Ditekan pengungkit hingga tablet pecah
↓
Dicatat angka yang tertera. Kekerasan minimum tablet adalah 4kg

4.      Uji Kerapuhan Tablet
Dibersihkan 20 tablet dari debu dan serpihan
↓
Ditimbang 20 tablet yang telah dibersihkan sebelumnya
↓
Dimasukkan kedalam Fariability Tester,
diputar selama 4 menit dengan kecepatan 25rpm sebanyak 100x
↓
Tablet dikeluarkan dan dibersihkan debunya
↓
Ditimbang 20 tablet
↓
Dihitung prosentase kerapuhan.
Syarat maksimal kerapuhan tablet adalah 1%.





5.      Uji Dimensi Tablet
Diambil satu tablet, dijepit dengan jangka sorong
(posisi berdiri)
↓
Dicatat diameter tablet
↓
Dijepit kembali tablet dengan posisi tidur
↓
Dicatat ketebalan tablet

6.      Uji Keseragaman Bobot
Ditimbang 20 tablet secara acak
↓
Ditimbang tablet satu persatu
↓
Dicatat rata-rata keseragaman bobot tablet


C.    DATA HASIL PRAKTIKUM
1.      Waktu alir                         : 28,8o
2.      Uji kekerasan tablet          : 6,5 kg
3.      Uji waktu hancur              : 1 menit
4.      Uji kerapuhan tablet          : 0,51%
5.      Kecepatan alir                   : 5,99gr/s
6.      Uji keseragaman bobot     : SERAGAM
7.      Dimensi tablet                   : t = 3,5 mm ; d = 8 mm
8.      Rendemen                         : 84%




D.    PEMBAHASAN
Praktikum kali ini, praktikan membuat sediaan tablet menggunakan metode kempa langsung. Dalam proses kempa langsung, tidak dilakukan pengolahan awal (granulasi) seperti pada metode granulasi basah maupun granulasi kering. Pembuatan dilakukan dengan mengempa langsung zat aktif dan bahan tambahan. Bahan aktif yang digunakan adalah nifedipin dengan kadar 10 mg. Sementara bahan tambahan yang digunakan adalah talkum, aerosil, explotab, dan avicel PH 102.
Dalam proses pembuatan perlu diperhatikan sifat-sifat khusus setiap komponen obat. Pengayakan aerosil di awal bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel karena aerosil berbentuk bongkahan. Begitu pula dengan bahan lain. Pengayakan bertujuan untuk membuat ukuran partikel menjadi sama atau kurang lebih sama agar dapat memudahkan proses tabletasi. Nifedipin ditimbang terakhir karena bahan ini dapat bereaksi dengan cahaya yaitu adanya perubahan warna.
Sebelum proses tabletasi dilakukan pengujian terhadap serbuk. Pengujian meliputi waktu alir, uji kerapuhan tablet, uji kekerasan tablet, uji keseragaman bobot, uji dimensi tablet, dan uji waktu hancur tablet.
Pertama uji waktu alir dan sudut diam serbuk dilakukan menggunakan alat flowbility tester. Hasil yang baik adalah kurang dari 30o. Apabila hasil lebih dari yang ditentukan maka serbuk memiliki sifat alir yang buruk. Dari hasil pengujian serbuk praktikan, diperoleh hasil 28,8o. Hasil ini menunjukkan serbuk memiliki sifat alir yang baik. Dalam pembuatan tablet dengan metode kempa langsung, sangat penting memperhatikan sifat alir serbuk karena dapat mempengaruhi hasil tabletasi.
Yang kedua uji kerapuhan tablet. Setelah tablet dicetak, dilakukan uji kerapuhan tablet yang bertujuan mengetahui stabilitas tablet terutama saat proses pengemasan dan pendistribusian. Tablet kempa langsung lebih mudah rapuh daripada tablet yang dibuat dengan metode granulasi basah karena tidak ada penambahan larutan pengikat. Sediaan yang dibuat dengan kempa langsung harus memiliki kompresibilitas yang baik agar dapat memenuhi uji ini. Oleh karena itu, pemilihan bahan tambahan harus diperhatikan dengan baik. Bahan tambahan harus memiliki sifat alir dan kompresibilitas baik serta tidak mempengaruhi zat aktif. Persyaratan uji kerapuhan tablet adalah <1%. Hasil pengujian yang dilakukan praktikan diproleh data 0,51%. Dapat disimpulkan tablet yang dibuat praktikan memenuhi uji kerapuhan.
Ketiga, uji kekerasan tablet. Kekerasan mempengaruhi kerapuhan dan waktu hancur tablet. Semakin keras suatu tablet maka kerapuhan akan semakin kecil dan waktu hancur semakin lama. Dari hasil pengujian diperoleh data 6,5 kg.
Keempat, uji waktu hancur tablet. Waktu hancur tablet akan mempengaruhi efektivitas zat aktif dalam tablet itu sendiri. Semakin lama waktu hancurnya, maka efek yang diinginkan akan semakin lama didapat. Begitu pula apabila waktu hancur singkat, maka kemungkinan zat aktif dapat memberi efek juga akan semakin kecil. Hasil pengujian yang dilakukan praktikan yaitu 1 menit untuk semua tablet. Hal ini dapat disebabkan karena ukuran partikel yang diperkecil untuk mempermudah pencetakan dan kombinasi bahan yang kurang tepat. Pada metode kempa tidak ada granulasi sehingga ukuran partikel serbuk jauh lebih kecil.
Kelima, uji keseragaman bobot. Uji keseragaman bobot akan menentukan apakah tablet yang diproduksi dapat dipasarkan atau tidak. Adanya penyimpangan bobot juga akan mempengaruhi kadar zat aktif dalam tiap tablet. Hal ini akan mengakibatkan efektivitas tiap tablet akan berbeda. Hasil pengujian menunjukkan sediaan tablet yang dibuat praktikan memenuhi syarat dan dapat diedarkan.
Keenam, uji dimensi tablet. Perbedaan ukuran fisik tablet biasanya jarang terjadi karena alat yang digunakan dalam pencetakan tablet dalam satu batch sama. Adanya penyimpangan dimungkinkan karena adanya penggantian alat cetak pada saat proses pencetakan. Perbedaan dimensi tablet juga mempengaruhi kandungan zat aktif dalam tablet, sehingga perlu diperhatikan ukuran tablet yang diproduksi.

E.     DESAIN KEMASAN
DATA TERLAMPIR

F.     KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan oleh praktikan, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Metode kempa langsung merupakan metode pembuatan tablet yang paling mudah. Meskipun begitu, pemilihan bahan aktif dan bahan tambahan perlu diperhatikan dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
2.      Formulasi sediaan tablet kempa langsung dapat mempengaruhi hasil akhir sehingga perlu diperhatikan karakteristik setiap komponen bahan obat.
3.      Pengujian yang dilakukan dalam pembuatan tablet dengan metode kempa langsung meliputi uji waktu alir dan sudut diam, uji kekerasan tablet, uji kerapuhan tablet, uji waktu hancur, uji keseragaman bobot, dan uji dimensi tablet. Pengujian dilakukan dengan tujuan memeproleh hasil akhir yang sesuai persyaratan sehingga tablet yang dibuat dapat diedarkan.
4.      Permasalahan yang paling mendasar adalah pemilihan komponen bahan yang akan digunakan. Setiap bahan obat yang memenuhi syarat metode kempa langsung akan menghasilkan tablet yang baik.
5.      Kemasan tablet diharapkan tidak hanya menarik tetapi juga dapat memberi informasi secara lengkap dan jelas kepada konsumen.
6.      Dari praktikum dan pengujian yang dilakukan oleh praktikan, dapat disimpulkan sediaan tablet dapat diedarkan ke pasaran.


G.    DAFTAR PUSTAKA
Anief, 2006, Ilmu Meracik Obat, UGM Press, Jogjakarta
Ansel, 2008, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta
Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, DEpartemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Hadisoewignyo, dkk, 2013, Sediaan Solida, Pustaka Pelajar, Jogjakarta
Rowe, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Edition, Pharmaceutical Press, London
Syamsuni, 2007, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC Press, Jakarta
Tjay, Tan Hoan & K. Rahardja, 2007, Obat-Obat Penting, PT. Gramedia Pustaka, Jakarta