Sabtu, 21 Februari 2015

Eliksir Acetaminophen

ELIKSIR ACETAMINOPHEN

A.     TUJUAN
1.      mahasiswa mampu membuat sediaan eliksir dengan baik dan benar.
2.      Mahasiswa mampu menghitung dosis dan jumlah bahan dengan tepat.
3.      Mahasiswa mampu mengevaluasi sediaan eliksir yang meliputi Organoleptis, pH, BJ, Viskositas, dan Kejernihan.
4.      Mahasiswa mampu membuat etiket dan kemasan yang baik.

B.     DASAR TEORI
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling, kecuali dinyatakan lain. Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan cairan. Maka zat padat tersebut terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Penyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o. kecuali dinyatakan lain menunjukan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar ( Anief, 2006)
Eliksir adalah sediaan cair yang mengandung bahan obat dan digunakan air dan etanol sebagai pelarut. Eliksir juga disebut juga larutan hidrolakohol. Kecuali dinyatakan lain, maka kadar etanol yang digunakan untuk sediaan eliksir adalah 5 – 10%. Pada sediaan eliksir, biasanya juga ditambah bahan tambahan seperti pemanis, pengawet, pewarna, dan pengaroma ( Anief, 2006)






C.     PEMERIAN dan KELARUTAN
1.      Acetaminophenum
Pemerian : hablur atau hablur putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida ( Depkes, 1979).
Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N, mudah larut dalam etanol ( Depkes, 1995).
Khasiat : analgetik, antipiretik ( Depkes, 1979).
Kadar dan dosis :
Dewasa : 500 – 1000 mg tiap 4 – 6 jam maksimal 4g sehari ( Martindale 30th edition, 1993 hal. 27).
2.      Aethanolum
Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P, dan dalam eter P.
Khasiat : zat tambahan ( Depkes, 1979)
Kadar untuk eliksir : 5 – 10% ( Anief, 2006 hal. 129)
3.      Glycerolum
Pemerian : cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti ras hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20o.
Kelarutan : dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P; dalam eter P; dan dalam minyak lemak.
Khasiat : zat tambahan ( Depkes, 1979).
Kadar untuk pemanis dan pengawet : 20% ( Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th edition)

D.    ALAT dan BAHAN
ALAT                                                              BAHAN
1.      Gelas ukur                                                  1. Acetaminophen
2.      Batang pengaduk                                        2. Pemanis ( Gliserol)
3.      Beaker glass                                               3. Essence anggur
4.      pH meter                                                    4. Brilliant violet
5.      viscometer Ostwald                                    5. Etanol
6.      Piknometer                                     6. Aquadestilata

E.      FORMULA
R/         Acetaminophen 125mg/5mL
            Etanol                           6%
            Gliserin                         20%
            Brilliant violet
            Essence anggur
            Aquadestilata ad           60 mL

F.      PERHITUNGAN DOSIS
            Acetaminophen ( Martindale edisi 30    , 1993 hal.27 )
            Oral : 500 – 1000 mg tiap 4 – 6 jam maksimal 4gr sehari
            Dosis 1X : 500 – 1000 mg
            Dosis 1hr : 3 – 4 x ( 500 – 1000 mg) = 1500 – 4000 mg




Penetapan aturan pakai :
½ sendok takar            = 62,5 mg
1 sendok takar             = 125 mg
1 ½ sendok takar         = 187,5 mg
2 sendok takar             = 250 mg
2 ½ sendok takar         = 312,5 mg

Perhitungan dosis pemakaian 1x
Usia (Tahun)
Perhitungan Dosis 1x
Rentang dosis(mg)
Pemakaian 1x(sendok takar)
Cek dosis 1x
2
2/14 x 500-1000mg
70 – 143 mg
1 cth
125/143  = 0,87 ≠ OD
3
3/15 x 500-1000mg
100 – 200 mg
1 cth
125/200  = 0,63 ≠ OD
4
4/16 x 500-1000mg
125 – 250 mg
1 cth
125/250  = 0,50 ≠ OD
5
5/17 x 500-1000mg
147 – 294 mg
1 ½ cth
187,5/29 = 0,64 ≠OD
6
6/18 x 500-1000mg
167 – 333 mg
1 ½ cth
187,5/333 = 0,56 ≠OD
7
7/19 x 500-1000mg
184 – 368 mg
1 ½ cth
187,5/368 = 0,51 ≠OD
8
8/20 x 500-1000mg
200 – 400 mg
2 cth
250/400   = 0,63 ≠ OD
9
9/20 x 500-1000mg
225 – 450 mg
2 cth
250/450   = 0,56 ≠ OD
10
10/20 x 500-1000mg
250 – 500 mg
2 cth
250/500   = 0,50 ≠ OD
11
11/20 x 500-1000mg
275 – 550 mg
2 ½ cth
312,5/550 = 0,57 ≠OD
12
12/20 x 500-1000mg
300 – 600 mg
2 ½ cth
312,5/600 = 0,52 ≠OD

            Perhitungan dosis pemakaian 1 hari
Usia
(Tahun)
Perhitungan Dosis 1hr
Rentang dosis
(mg)
Pemakian 1hari(sendok takar)
Cek Dosis 1 hari
2
2/14 x 1,5-4g
0,214-0,571g
3-4 x 1 cth
0,5/0,571 = 0,87≠OD
3
3/15 x 1,5-4g
0,3-0,8 g
3-4 x 1 cth
0,5/0,8 = 0,63 ≠ OD
4
4/16 x 1,5-4g
0,375-1 g
3-4 x 1 cth
0,5/1 = 0,5 ≠ OD
5
5/17 1,5-4g
0,441-1,176 g
3-4 x 1 ½ cth
0,75/1,176 = 0,63 ≠ OD
6
6/18 x 1,5-4g
0,499-1,333 g
3-4 x 1 ½ cth
0,75/1,333 = 0,56 ≠ OD
7
7/19 x 1,5-4g
0,552-1,473 g
3-4 x 1 ½ cth
0,75/1,473 = 0,50 ≠ OD
8
8/20 x 1,5-4g
0,6-1,6 g
3-4 x 2 cth
1/1,6 = 0,63 ≠ OD
9
9/20 x 1,5-4g
0,675-1,8 g
3-4 x 2 cth
1/1,8 = 0,55 ≠ OD
10
10/20 x 1,5-4g
0,75-2 g
3-4 x 2 cth
1 / 2 = 0,5 ≠ OD
11
11/20 x 1,5-4g
0,825-2,2 g
3-4 x 2 ½ cth
1,25/2,2 = 0,57 ≠ OD
12
12/20 x 1,5-4g
0,9-2,4 g
3-4 x 2 ½ cth
1,25/2,4 = 0,52 ≠ OD

Aturan pakai 1 hari :
            2-4 tahun          = 3-4 x sehari 1 cth
            5-7 tahun          = 3-4 x sehari 1 ½ cth
            8-10 tahun        = 3-4 x sehari 2 cth
            11-12 tahun      = 3-4 x sehari 2 ½ cth

G.    JUMLAH BAHAN
Perhitungan cosolvensi paracetamol :
Kelarutan : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propolinglikol P; larut dalam alkali hidroksida ( Depkes, 1979)
Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N; mudah larut dalam etanol ( Depkes, 1995)
Kriteria kelarutan :
Mudah larut      : 1 – 10 bagian
Larut                : 10 – 30 bagian
Paracetamol : 125 mg/5 mL x 60 mL = 1500 mg
a.       Dalam etanol :
Larut dalam 7 bagian etanol : 1gr paracetamol larut dalam 7 mL etanol
Kadar etanol yang digunakan : 6% ( Anief, 2006)
è 6% x 60 mL = 3,6 mL
è 3,6 mL : 7 mL = 0,51g ( jumlah yang dilarutkan dalam etanol)
b.      Dalam gliserin :
Larut dalam 40 bagian gliserin : 1g paracetamol larut dalam 40 mL gliserin.
Kadar gliserin yang digunakan : 20 % ( Raymond C Rowe 6th edition)
è 20% x 60 mL = 12 mL
è 12 mL : 40 mL = 0,3g (jumlah yang dilarutkan dalam gliserin)

c.       Dalam air mendidih :
Sisa paracetamol yang belum dilarutkan : 1,5g −(0,3g + 0,51g) = 0,69g
Kriteria : larut (10-30 bagian)
è 0,69g x 30 bagian = 20,7 mL
Brilliant violet = 0,01% x 60 mL = 0,006g
Aquadest = 60 mL – (1,5g+0,51g+0,3g+20,7mL+0,006g ) = 36,98 mL

H.    CARA KERJA
Pembuatan sediaan :
Dikalibrasi beker
↓
Ditimbang acetaminophen 1,5g
↓
Dilarutkan dalam pelarut (gliserin, etanol, air mendidih) hingga larut
↓
Ditimbang dan larutkan sunset yellow hingga larut
↓
Setelah larutan paracetamol dalam air mendidih cukup dingin, masukkan komponen yang lain, homogenkan
↓
Cukupkan dengan aquadest, homogenkan
↓
Lakukan evaluasi


            Evaluasi sediaan :
1.      Organoleptis :
Diamati warna sediaan
↓
Cium aroma sediaan
↓
Dirasakan rasa sediaan

2.      Bobot Jenis :
bandingkan BJ sediaan dengan BJ air menggunakan piknometer
caranya :
ditimbang piknometer kosong, catat bobotnya
↓
Ditimbang piknometer berisi air, catat bobotnya
↓
Ditimbang piknometer berisi sediaan, catat bobotnya dan bandingkan









3.      Viskositas :
Dimasukkan air ke dalam viscometer Ostwald hingga permukaan air di berada di antara tanda X dan Y
↓
Dicatat waktu turun air
↓
Dimasukkan sediaan dan lakukan hal yang sama
↓
Dicatat waktu turun sediaan
↓
Dibandingkan


4.       pH sediaan :
Dimasukkan pH meter ke dalam wadah berisi sediaan↓
↓
Diputar hingga menunjukkan angka yang ditetapkan
↓
Dicatat angka yang tertera pada pH meter


5.      Kejernihan :
Diambil sediaan uji dan masukkan ke dalam beker
↓
Diamati kejernihan di bidang hitam dan putih








I.       HASIL
1.      Organoleptis :
1.      Bentuk : cair
2.      Bau      : aroma anggur
3.      Rasa     : pahit
4.      Warna  : ubgu cerah / violet

2.      BJ :
Pikno kosong         : 11,98
Pikno + air             : 21,96
Pikno + sediaan      : 22,28
V air =
      = 21,96 – 11,98
                  1
      = 9,98
P sediaan : m sediaan / m air
= 22,28 – 11,98 / 9,98
= 1,03
            BJ        = p sediaan / p air
                        = 1,03 / 1
                        = 1,03



3.      Viskositas :
Viskositas air : 0, 8904
                        T sediaan : 43 detik
                        T air : 17 detik
                        Viskositas sediaan : visk air x p sediaan x t sediaan/ p air x t air
                                           : 0,8904 x 1,03x 43 / 1 x 17 = 2,31
4.      pH = 3,20
5.      Kejernihan :
Bidang hitam           : terdapat partikel paracetamol yang belum larut
Bidang putih           : jernih

J.      PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, mahasiswa diminta untuk membuat eliksir paracetamol. Perlu diperhatikan paracetamol memerlukan perlakuan khusus untuk dapat larut. Untuk melarutkan paracetamol secara sempurna, perlu dilarutkan tidak hanya dalam satu pelarut tetapi beberapa pelarut seperti gliserin, etanol, dan juga air mendidih. Air harus benar-benar mendidih agar paracetamol dapat terlarut sempurna. Pada pembuatan sediaan sirup dan eliksir adalah suatu hal yang umum apabila ada penambahan pemanis dan pengawet. Pada praktikum ini, mahasiswa hanya menambahkan gliserin sebagai pemanis dan pengawet, karena pada konsentrasi 20% (Handbook of Excipient) gliserin dapat digunakan sebagai pemanis dan pengawet. Namun, tanpa penambahan pengawet lain seperti Na Benzoat, sediaan akan menjadi kurang stabil karena gliserin merupakan golongan gula dan akan mudah sekali menjadi tempat perkembangbiakan mikroba.
Paracetamol pada dasarnya memiliki rasa yang sangat pahit, oleh karena itu, selain gliserin, penambahan pemanis lain akan membantu menutupi rasa pahit tersebut. Selain itu, gliserin sebagai pemanis juga memiliki rasa pahit di akhir. Untuk homogenitas sediaan dapat dilihat dari gliserin yang masih terlihat seperti gelembung.

K.    KESIMPULAN
1.      mahasiswa telah mampu membuat sediaan eliksir dengan baik dan benar.
2.      Mahasiswa telah mampu menghitung dosis dan jumlah bahan dengan tepat.
3.      Mahasiswa telah mampu mengevaluasi sediaan eliksir yang meliputi Organoleptis, pH, BJ, Viskositas, dan Kejernihan.
4.      Mahasiswa telah mampu membuat etiket dan kemasan yang baik.
   






L.      DAFTAR PUSTAKA
-         Anief, M, 2006, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
-         Depkes RI, 1979, Farmakope Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
-         Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
-         Raymond C Rowe, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th Edition, Pharmaceutical Press, London
-         Sean C Sweetman, 1993, Martindale The Complete Drug Reference 30th Edition, Pharmaceutical Press, London


Semarang, 3 Maret 2014

            Dosen Pembimbing                                                                   Mahasiswa



Sisca Devi, S.Farm., Apt                                                          Restu Wulandari