ELIKSIR ACETAMINOPHEN
A. TUJUAN
1. mahasiswa
mampu membuat sediaan eliksir dengan baik dan benar.
2. Mahasiswa
mampu menghitung dosis dan jumlah bahan dengan tepat.
3. Mahasiswa
mampu mengevaluasi sediaan eliksir yang meliputi Organoleptis, pH, BJ,
Viskositas, dan Kejernihan.
4. Mahasiswa
mampu membuat etiket dan kemasan yang baik.
B. DASAR TEORI
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan
kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling, kecuali dinyatakan lain.
Larutan terjadi apabila suatu zat padat bersinggungan dengan cairan. Maka zat
padat tersebut terbagi secara molekuler dalam cairan tersebut. Penyataan
kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20o.
kecuali dinyatakan lain menunjukan 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume
zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut. Pernyataan kelarutan zat
dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu kamar ( Anief, 2006)
Eliksir adalah sediaan cair yang mengandung bahan
obat dan digunakan air dan etanol sebagai pelarut. Eliksir juga disebut juga
larutan hidrolakohol. Kecuali dinyatakan lain, maka kadar etanol yang digunakan
untuk sediaan eliksir adalah 5 – 10%. Pada sediaan eliksir, biasanya juga
ditambah bahan tambahan seperti pemanis, pengawet, pewarna, dan pengaroma (
Anief, 2006)
C. PEMERIAN dan KELARUTAN
1.
Acetaminophenum
Pemerian : hablur atau hablur
putih; tidak berbau; rasa pahit.
Kelarutan : larut dalam 70 bagian
air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian
gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali
hidroksida ( Depkes, 1979).
Kelarutan : larut dalam air
mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N, mudah larut dalam etanol ( Depkes,
1995).
Khasiat : analgetik, antipiretik (
Depkes, 1979).
Kadar dan dosis :
Dewasa : 500 – 1000 mg tiap 4 – 6
jam maksimal 4g sehari ( Martindale 30th edition, 1993 hal. 27).
2.
Aethanolum
Pemerian : cairan tidak berwarna,
jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar
dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan : sangat mudah larut
dalam air, dalam kloroform P, dan dalam eter P.
Khasiat : zat tambahan ( Depkes,
1979)
Kadar untuk eliksir : 5 – 10% (
Anief, 2006 hal. 129)
3.
Glycerolum
Pemerian : cairan seperti sirop;
jernih, tidak berwarna; tidak berbau; manis diikuti ras hangat. Higroskopik.
Jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa
hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 20o.
Kelarutan : dapat campur dengan
air, dan dengan etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam kloroform P; dalam
eter P; dan dalam minyak lemak.
Khasiat : zat tambahan ( Depkes,
1979).
Kadar untuk pemanis dan pengawet :
20% ( Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th edition)
D. ALAT dan BAHAN
ALAT BAHAN
1. Gelas
ukur 1.
Acetaminophen
2. Batang
pengaduk 2.
Pemanis ( Gliserol)
3. Beaker
glass 3.
Essence anggur
4. pH
meter 4.
Brilliant violet
5. viscometer
Ostwald 5.
Etanol
6. Piknometer 6.
Aquadestilata
E.
FORMULA
R/ Acetaminophen 125mg/5mL
Etanol 6%
Gliserin 20%
Brilliant violet
Essence anggur
Aquadestilata ad 60 mL
F. PERHITUNGAN DOSIS
Acetaminophen ( Martindale edisi 30 , 1993 hal.27 )
Oral : 500 – 1000 mg tiap 4 – 6 jam
maksimal 4gr sehari
Dosis 1X : 500 – 1000 mg
Dosis 1hr : 3 – 4 x ( 500 – 1000 mg)
= 1500 – 4000 mg
Penetapan
aturan pakai :
½
sendok takar = 62,5 mg
1
sendok takar = 125 mg
1
½ sendok takar = 187,5 mg
2
sendok takar = 250 mg
2
½ sendok takar = 312,5 mg
Perhitungan dosis pemakaian 1x
|
Usia (Tahun)
|
Perhitungan Dosis 1x
|
Rentang dosis(mg)
|
Pemakaian 1x(sendok takar)
|
Cek dosis 1x
|
|
2
|
2/14
x 500-1000mg
|
70
– 143 mg
|
1
cth
|
125/143 = 0,87 ≠ OD
|
|
3
|
3/15
x 500-1000mg
|
100
– 200 mg
|
1
cth
|
125/200 = 0,63 ≠ OD
|
|
4
|
4/16
x 500-1000mg
|
125
– 250 mg
|
1
cth
|
125/250 = 0,50 ≠ OD
|
|
5
|
5/17
x 500-1000mg
|
147
– 294 mg
|
1
½ cth
|
187,5/29 = 0,64 ≠OD
|
|
6
|
6/18
x 500-1000mg
|
167
– 333 mg
|
1
½ cth
|
187,5/333 = 0,56 ≠OD
|
|
7
|
7/19
x 500-1000mg
|
184
– 368 mg
|
1
½ cth
|
187,5/368 = 0,51 ≠OD
|
|
8
|
8/20
x 500-1000mg
|
200
– 400 mg
|
2
cth
|
250/400 = 0,63 ≠ OD
|
|
9
|
9/20
x 500-1000mg
|
225
– 450 mg
|
2
cth
|
250/450 = 0,56 ≠ OD
|
|
10
|
10/20
x 500-1000mg
|
250
– 500 mg
|
2
cth
|
250/500 = 0,50 ≠ OD
|
|
11
|
11/20
x 500-1000mg
|
275
– 550 mg
|
2
½ cth
|
312,5/550 = 0,57 ≠OD
|
|
12
|
12/20 x 500-1000mg
|
300
– 600 mg
|
2
½ cth
|
312,5/600 = 0,52 ≠OD
|
Perhitungan dosis pemakaian 1 hari
|
Usia
(Tahun)
|
Perhitungan
Dosis 1hr
|
Rentang
dosis
(mg)
|
Pemakian
1hari(sendok takar)
|
Cek
Dosis 1 hari
|
|
2
|
2/14
x 1,5-4g
|
0,214-0,571g
|
3-4
x 1 cth
|
0,5/0,571
= 0,87≠OD
|
|
3
|
3/15
x 1,5-4g
|
0,3-0,8
g
|
3-4
x 1 cth
|
0,5/0,8
= 0,63 ≠ OD
|
|
4
|
4/16
x 1,5-4g
|
0,375-1
g
|
3-4
x 1 cth
|
0,5/1
= 0,5 ≠ OD
|
|
5
|
5/17
1,5-4g
|
0,441-1,176
g
|
3-4
x 1 ½ cth
|
0,75/1,176
= 0,63 ≠ OD
|
|
6
|
6/18
x 1,5-4g
|
0,499-1,333
g
|
3-4
x 1 ½ cth
|
0,75/1,333
= 0,56 ≠ OD
|
|
7
|
7/19
x 1,5-4g
|
0,552-1,473
g
|
3-4
x 1 ½ cth
|
0,75/1,473
= 0,50 ≠ OD
|
|
8
|
8/20
x 1,5-4g
|
0,6-1,6
g
|
3-4
x 2 cth
|
1/1,6
= 0,63 ≠ OD
|
|
9
|
9/20
x 1,5-4g
|
0,675-1,8
g
|
3-4
x 2 cth
|
1/1,8
= 0,55 ≠ OD
|
|
10
|
10/20
x 1,5-4g
|
0,75-2
g
|
3-4
x 2 cth
|
1
/ 2 = 0,5 ≠ OD
|
|
11
|
11/20
x 1,5-4g
|
0,825-2,2
g
|
3-4
x 2 ½ cth
|
1,25/2,2
= 0,57 ≠ OD
|
|
12
|
12/20
x 1,5-4g
|
0,9-2,4
g
|
3-4
x 2 ½ cth
|
1,25/2,4
= 0,52 ≠ OD
|
Aturan pakai 1 hari :
2-4 tahun = 3-4 x sehari 1 cth
5-7 tahun = 3-4 x sehari 1 ½ cth
8-10 tahun = 3-4 x sehari 2 cth
11-12 tahun = 3-4 x sehari 2 ½ cth
G. JUMLAH BAHAN
Perhitungan
cosolvensi paracetamol :
Kelarutan
: larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P, dalam 13 bagian
aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propolinglikol P;
larut dalam alkali hidroksida ( Depkes, 1979)
Kelarutan
: larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N; mudah larut dalam
etanol ( Depkes, 1995)
Kriteria
kelarutan :
Mudah
larut : 1 – 10 bagian
Larut : 10 – 30 bagian
Paracetamol
: 125 mg/5 mL x 60 mL = 1500 mg
a. Dalam
etanol :
Larut dalam 7 bagian etanol : 1gr
paracetamol larut dalam 7 mL etanol
Kadar etanol yang digunakan : 6% (
Anief, 2006)
è 6%
x 60 mL = 3,6 mL
è 3,6
mL : 7 mL = 0,51g ( jumlah yang dilarutkan dalam etanol)
b. Dalam
gliserin :
Larut dalam 40 bagian gliserin : 1g
paracetamol larut dalam 40 mL gliserin.
Kadar gliserin yang digunakan : 20
% ( Raymond C Rowe 6th edition)
è 20%
x 60 mL = 12 mL
è 12
mL : 40 mL = 0,3g (jumlah yang dilarutkan dalam gliserin)
c. Dalam
air mendidih :
Sisa paracetamol yang belum
dilarutkan : 1,5g −(0,3g + 0,51g) = 0,69g
Kriteria : larut (10-30 bagian)
è 0,69g
x 30 bagian = 20,7 mL
Brilliant
violet = 0,01% x 60 mL = 0,006g
Aquadest
= 60 mL – (1,5g+0,51g+0,3g+20,7mL+0,006g ) = 36,98 mL
H. CARA KERJA
Pembuatan
sediaan :
Dikalibrasi
beker
↓
Ditimbang
acetaminophen 1,5g
↓
Dilarutkan dalam
pelarut (gliserin, etanol, air mendidih) hingga larut
↓
Ditimbang dan
larutkan sunset yellow hingga larut
↓
Setelah larutan
paracetamol dalam air mendidih cukup dingin, masukkan komponen yang lain,
homogenkan
↓
Cukupkan dengan
aquadest, homogenkan
↓
Lakukan evaluasi
Evaluasi sediaan :
1. Organoleptis
:
Diamati warna
sediaan
↓
Cium aroma
sediaan
↓
Dirasakan rasa
sediaan
2. Bobot
Jenis :
bandingkan BJ
sediaan dengan BJ air menggunakan piknometer
caranya :
ditimbang
piknometer kosong, catat bobotnya
↓
Ditimbang
piknometer berisi air, catat bobotnya
↓
Ditimbang
piknometer berisi sediaan, catat bobotnya dan bandingkan
3. Viskositas
:
Dimasukkan air
ke dalam viscometer Ostwald hingga permukaan air di berada di antara tanda X
dan Y
↓
Dicatat waktu
turun air
↓
Dimasukkan
sediaan dan lakukan hal yang sama
↓
Dicatat waktu
turun sediaan
↓
Dibandingkan
4. pH sediaan :
Dimasukkan pH
meter ke dalam wadah berisi sediaan↓
↓
Diputar hingga menunjukkan
angka yang ditetapkan
↓
Dicatat angka
yang tertera pada pH meter
5. Kejernihan
:
Diambil sediaan
uji dan masukkan ke dalam beker
↓
Diamati kejernihan
di bidang hitam dan putih
I. HASIL
1. Organoleptis
:
1. Bentuk
: cair
2. Bau
: aroma anggur
3. Rasa : pahit
4. Warna : ubgu cerah / violet
2.
BJ
:
Pikno kosong : 11,98
Pikno + air : 21,96
Pikno + sediaan : 22,28
V air = 
1
= 9,98
P sediaan : m sediaan / m air
= 22,28 – 11,98 / 9,98
= 1,03
BJ = p
sediaan / p air
= 1,03 /
1
= 1,03
3.
Viskositas :
Viskositas air : 0, 8904
T sediaan : 43 detik
T air : 17 detik
Viskositas sediaan :
visk air x p sediaan x t sediaan/ p air x t air
: 0,8904 x 1,03x 43 / 1 x 17 = 2,31
4.
pH = 3,20
5.
Kejernihan :
Bidang hitam :
terdapat partikel paracetamol yang belum larut
Bidang putih :
jernih
J.
PEMBAHASAN
Pada praktikum ini,
mahasiswa diminta untuk membuat eliksir paracetamol. Perlu diperhatikan
paracetamol memerlukan perlakuan khusus untuk dapat larut. Untuk melarutkan paracetamol
secara sempurna, perlu dilarutkan tidak hanya dalam satu pelarut tetapi
beberapa pelarut seperti gliserin, etanol, dan juga air mendidih. Air harus
benar-benar mendidih agar paracetamol dapat terlarut sempurna. Pada pembuatan
sediaan sirup dan eliksir adalah suatu hal yang umum apabila ada penambahan
pemanis dan pengawet. Pada praktikum ini, mahasiswa hanya menambahkan gliserin
sebagai pemanis dan pengawet, karena pada konsentrasi 20% (Handbook of
Excipient) gliserin dapat digunakan sebagai pemanis dan pengawet. Namun, tanpa
penambahan pengawet lain seperti Na Benzoat, sediaan akan menjadi kurang stabil
karena gliserin merupakan golongan gula dan akan mudah sekali menjadi tempat
perkembangbiakan mikroba.
Paracetamol pada dasarnya
memiliki rasa yang sangat pahit, oleh karena itu, selain gliserin, penambahan
pemanis lain akan membantu menutupi rasa pahit tersebut. Selain itu, gliserin
sebagai pemanis juga memiliki rasa pahit di akhir. Untuk homogenitas sediaan
dapat dilihat dari gliserin yang masih terlihat seperti gelembung.
K.
KESIMPULAN
1. mahasiswa
telah mampu membuat sediaan eliksir dengan baik dan benar.
2. Mahasiswa
telah mampu menghitung dosis dan jumlah bahan dengan tepat.
3. Mahasiswa
telah mampu mengevaluasi sediaan eliksir yang meliputi Organoleptis, pH, BJ,
Viskositas, dan Kejernihan.
4. Mahasiswa
telah mampu membuat etiket dan kemasan yang baik.
L.
DAFTAR PUSTAKA
-
Anief, M, 2006, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
-
Depkes RI, 1979, Farmakope Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta
-
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta
-
Raymond C Rowe, 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th
Edition, Pharmaceutical Press, London
-
Sean C Sweetman, 1993, Martindale The Complete Drug Reference 30th
Edition, Pharmaceutical Press, London
Semarang,
3 Maret 2014
Dosen Pembimbing Mahasiswa
Sisca Devi,
S.Farm., Apt Restu
Wulandari