Jumat, 20 Februari 2015

enumerasi mikroba

ENUMERASI MIKROBA

A.     TUJUAN
1.      Mahasiswa mampu memahami enumerasi mikroba dengan baik dan benar.
2.      Mahasiswa mampu melakukan enumerasi mikroba pada sediaan Jamu Sariawan cap Dua Putri melalui metode total plate count dengan baik dan benar.
3.      Mahasiswa mampu memahami kelebihan serta kekurangan enumerasi mikroba secara total plate count dengan baik dan benar.

B.     DASAR TEORI
Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hampir di semua tempat di prmukaaan bumi. Mikroba mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin sampai sangat panas. Dari lingkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba dikelompokkan menjadi dua, yaitu mikroba menguntungkan dan mikroba yang merugikan ( Afriyanto, 2005).
Penentuan jumlah angka mikroorganisme sangat penting dilakukan untuk menetapkan keamanan suatu sediaan farmasi dan makanan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk menghitung jumlah mikroorganisme. Terdapat empat macam cara untuk memperkirakan besar populasi mikroorganisme yaitu perhitungan langsung, perhitungan tidak langsung, pengukuran langsung, dan perkiraan tidak langsung ( Harmita, 2006).
Perhitungan langsung (direct count) untuk jumlah sel atau biomassa mikroorganisme dan sel dihitung langsung di bawah mikroskop atau dengan perhitungan partikel elektronik. Pengukuran langsung (direct measurement) yaitu dengan mngukur atau menimbang berat seluruh sel dan dibandingkan dengan biomassa sel melalui kurva standar. Perhitungan tidak langsung (indirect count) yaitu perhitungan mikroorganisme dengan sebelumnya menanamkan bakteri ke dalam media. Koloni yang terbentuk digunakan untuk memperkirakan jumlahnya. Perkiraan tidak langsung (indirect estimate) yaitu memperkirakan biomassa mikroorganisme dengan mengukur komponen biokimia mikroorganisme ( Fardiaz, 1992).
Prinsip metode total plate count adalah bila sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium, maka mikroba akan berkembang biak dan membentuk suatu koloni yang dapat dilihat tanpa menggunakan mikroskop.
Metode ini merupakan cara paling sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan alasan :
1.      Hanya sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung
2.      Beberapa jasad renik dapat dihitung sekaligus
3.      Dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari mikroba yang memiliki penampang spesifik ( Dwidjoseputro, 2005).
Kelemahan dari hitungan cawan ini adalah :
1.      Hasil hitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karena beberapa sel yang berdekatan mungkin membentuk koloni
2.      Medium dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan jumlah yang berbeda pula
3.      Mikroba yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang kompak, jelas, dan tidak menyebar.
4.      Memerlukan persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat dihitung ( Dwidjoseputro, 2005).
Satuan perhitungan mikroba yang digunakan adalah CFU ( Colony Forming Unit) dengan cara membuat seri pengenceran sampel dan menumbuhkan sampel pada media padat. Pengukuran dilakukan pada plate dengan jumlah koloni berkisar 25 – 250 atau 30 – 300 ( Pratiwi, 2008).

C.     ALAT dan BAHAN
Total plate count :
Alat :
1.      6 cawan petri steril
2.      4 pipet volume 1mL
3.      1 tabung aquadest 9,9 mL
4.      2 tabung aquadest 9 mL
5.      Lampu spiritus
Bahan :
1.      0,1g sampel Jamu Sariawan cap Dua Putri
2.      Medium Nutrient Agar
3.      Medium PDA
4.      Antibiotik kloramfenikol

D.    CARA KERJA
Sampel jamu tradisional
↓
Seri pengenceran 10-2
Oval: Larutan jamu
Pengenceran 10-2
Medium NA
Oval: Larutan jamu
Pengenceran 10-2
Medium PDA
 





             





 


Seri pengenceran 10-3
Oval: Larutan jamu
Pengenceran 10-3
Medium NA
Oval: Larutan jamu
Pengenceran 10-3
Medium PDA
 






           




 




Seri pengenceran 10-4
Oval: Larutan jamu
Pengenceran 10-4
Medium NA
Oval: Larutan jamu
Pengenceran 10-4
Medium PDA
 










  1. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini praktikan diminta untuk melakukan enumerasi pada mikroba dengan metode total plate count. Metode ini dipilih dengan alasan selain cara perhitungannya yang mudah, karena yang dihitung hanya sel yang terlihat, dan perhitungan dengan metode ini dapat dilakukan dengan cepat.
Metode ini dilakukan dengan cara pengenceran bertingkat. Pada praktikum kali ini dilakukan tiga seri pengenceran yakni seri pengenceran 10-2, 10-3, dan 10-4. Sediaan jamu sebanyak 0,1g dilarutkan dalam aquadest 9,9 mL kemudian dikocok hingga tercampur sempurna dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril menggunakan pipet volume steril. Kemudian dari tabung seri pengenceran 10-2, diambil larutan sampel menggunakan pipet volume steril yang sama dan dimasukkan ke dalam tabung aquadest seri pengenceran 10-3, dari tabung seri pengenceran 10-3, larutan dimasukkan ke dalam cawan petri steril menggunakan pipet volume steril baru dan dimasukkan juga ke dalam tabung untuk seri pengenceran 10-4. Dari tabung seri pengenceran 10-4, larutan dimasukkan ke dalam cawan steril menggunakan pipet volume yang baru. Setelah itu, cawan petri diberi medium cair yaitu Nutrient Agar dan PDA.
Nutrient Agar digunakan untuk 3 cawan dan PDA digunakan untuk 3 cawan lainnya. Selain bakteri, pada praktikum ini praktikan juga dapat melihat ada atau tidaknya jamur pada sediaan farmasi berupa obat tradisional. Oleh karena itu, digunakan dua medium tersebut. Alasan digunakan Nutrient Agar untuk bakteri adalah karena kandungan nutrisi dari Nutrient Agar sangat dibutuhkan oleh bakteri. Contohnya pepton yang digunakan sebagai sumber nitrogen organik, protein, dan vitamin bagi bakteri. Air murni mengandung banyak ion kalsium dan ion magnesium tinggi, sehingga cocok untuk pertumbuhan bakteri.
Sementara PDA merupakan medium yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi yang berasal dari ekstrak kentang dan glukosa yang tinggi, sehingga cocok untuk pertumbuhan jamur. Sedangkan untuk bakteri, medium ini kurang sesuai karena beberapa bakteri tidak dapat memfermentasi karbohidrat dengan baik seperti halnya jamur.
Dari hasil yang diperoleh, pada seri pengenceran 10-2 terdapat lebih dari 300 bakteri selama waktu inkubasi 24 jam dan 48 jam. Pada pengenceran 10-3 terdapat 147 bakteri pada inkubasi 24 jam dan 254 bakteri pada inkubasi 48 jam. Seri pengenceran 10-4 diperoleh hasil 36 bakteri untuk inkubasi 24 jam dan 46 bakteri pada inkubasi 48 jam. Sementara pada cawan berisi medium PDA, jamur tumbuh satu pada inkubasi 72 jam dan 96 jam. Hasil pengenceran 10-2 tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa bakteri yang memenuhi syarat perhitungan adalah 30 – 300 bakteri (Pratiwi, 2008) karena jumlah bakteri yang melebihi 300 bakteri. Sementara pada seri pengenceran lainnya sudah sesuai karena masuk dalam kisaran angka tersebut. Hal ini terjadi karena adanya pengenceran. Pengenceran akan menyebabkan berkurangnya jumlah bakteri yang ada dalam setiap seri pengenceran.
Cara dan alat yang digunakan tentu saja mempengaruhi hasil dari pengenceran ini.  Penggantian pipet volume juga dimaksudkan agar bakteri pada setiap seri pengenceran dapat sesuai dengan syarat perhitungan. Apabila pipet volume tidak diganti atau tidak steril, maka pada seri pengenceran lanjutan, bakteri yang seharusnya memenuhi syarat perhitungan menjadi tidak sesuai karena adanya kontaminasi. Cara pengerjaan yang kurang aseptic juga akan mempengaruhi hasil dari perhitungan bakteri atau jamur.





  1. EVALUASI
1.      CFU adalah satuan penghitungan jumlah mikroba dengan metode total plate count.
2.      Tahap pertama, ambil sampel sediaan farmasi 1 g dan larutkan dalam tabung 9 mL aquadest. Dikocok sampai larut sempurna atau tercampur sempurna, kemudian masukkan larutan sebanyak 1mL ke cawan petri dan tabung 9 mL aquadest untuk seri pengenceran kedua dengan pipet volume yang sama.
Tahap kedua, ambil larutan dalam tabung 10-2 dengan pipet volume yang baru, dan maasukkan larutan ke dalam cawan petri dan tabung 9 mL aqaudest untuk seri pengenceran 10-3.
Tahap ketiga, dari larutan dalam pengenceran 10-3, ambil larutan dengan pipet volume baru dan masukkan ke dalam cawan petri dan tabung 9 mL aquadest untuk seri pengenceran 10-4.
Tahap keempat, dari larutan dalam pengenceran 10-4, ambil larutan dengan pipet volume baru dan dimasukkan ke dalam cawan petri serta tabung 9 mL aquadest untuk seri pengenceran 10-5. Begitu seterusnya sampai seri pengenceran 10-8.
3.      Jumlah pipet steril yang dibutuhkan apabila melakukan pengenceran sampai 1010 dengan menggunakan 99mL aquadest adalah 9 buah.









  1. DATA PENGAMATAN
Medium
Pe-
ngen
ceran
Pengamatan
Jumlah Mikroba
24 jam
48 jam
72 jam
96 jam
24 jam
48 jam
72 jam
96 jam
Nutrient Agar
(bakteri)
10-2
>300
>300
-
-
TBUD
TBUD
-
-
10-3
147
254
-
-
1,4x105
3,5 x 105


10-4
36
46
-
-


PDA
(jamur)
10-2
-
-
1
1
1 x 102
1 x 102


10-3
-
-
-
-




10-4
-
-
-
-






  1. KESIMPULAN
1.      Enumerasi mikroba dilakukan untuk mengetahui jumlah mikroba dalam suatu sediaan farmasi dan menjadi tolok ukur apakah sediaan farmasi tersebut layak konsumsi atau tidak.
2.      Metode total plate count merupakan metode enumerasi mikroba dengan cara pengenceran bertingkat. Syarat penghitungan mikroba adalah 30 – 300 koloni dengan satuan CFU.
3.      Setiap metode penghitungan mikroba memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode TPC memiliki kelebihan yakni perhitungan dapat dilakukan secara cepat karena hanya mikroba yang terlihat saja yang dihitung, dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba, beberapa jasad renik atau mikroba dapat dihitung sekaligus. Sementara kelemahannya adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama dan mikroba tidak dapat terhitung seluruhnya.

  1. DAFTAR PUSTAKA
-         Afriyanto, Pakan Ikan dan Perkembangannya, Kanisius, Jakarta
-         Dwidjoseputro, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta
-         Fardiaz, 1992, Mikrobiologi Pangan, IPB, Bogor
-         Harmita, 2006, Buku Ajar Analisis Edisi Ketiga, Buku Kedokteran EGC, Jakarta
-         Pratiwi, 2008, Mikrobiologi Farmasi, EMS, Jakarta

Semarang, 4 April 2014
Dosen pengampu                                                             Praktikan


Dra. M.G. Isworo Rukmi, MKes.                                             Restu Wulandari
















  1. LAMPIRAN
Pengamatan 24 jam bakteri

                                                     






 












            Pengamatan 48 jam bakteri
           





















Pengamatan 72 jam jamur
 























Pengamatan 96 jam jamur

 

Rabu, 14 Januari 2015




dua tugas untuk kelengkapan nilai uas. semoga masih bisa ditrima. amin..