ENUMERASI
MIKROBA
A. TUJUAN
1. Mahasiswa
mampu memahami enumerasi mikroba dengan baik dan benar.
2. Mahasiswa
mampu melakukan enumerasi mikroba pada sediaan Jamu Sariawan cap Dua Putri
melalui metode total plate count
dengan baik dan benar.
3. Mahasiswa
mampu memahami kelebihan serta kekurangan enumerasi mikroba secara total plate count dengan baik dan benar.
B. DASAR TEORI
Mikroba
ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup.
Jasad tersebut dapat hidup hampir di semua tempat di prmukaaan bumi. Mikroba
mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin sampai sangat panas.
Dari lingkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba
dikelompokkan menjadi dua, yaitu mikroba menguntungkan dan mikroba yang
merugikan ( Afriyanto, 2005).
Penentuan
jumlah angka mikroorganisme sangat penting dilakukan untuk menetapkan keamanan
suatu sediaan farmasi dan makanan. Berbagai metode telah dikembangkan untuk
menghitung jumlah mikroorganisme. Terdapat empat macam cara untuk memperkirakan
besar populasi mikroorganisme yaitu perhitungan langsung, perhitungan tidak
langsung, pengukuran langsung, dan perkiraan tidak langsung ( Harmita, 2006).
Perhitungan
langsung (direct count) untuk jumlah sel atau biomassa mikroorganisme dan sel
dihitung langsung di bawah mikroskop atau dengan perhitungan partikel
elektronik. Pengukuran langsung (direct measurement) yaitu dengan mngukur atau
menimbang berat seluruh sel dan dibandingkan dengan biomassa sel melalui kurva
standar. Perhitungan tidak langsung (indirect count) yaitu perhitungan
mikroorganisme dengan sebelumnya menanamkan bakteri ke dalam media. Koloni yang
terbentuk digunakan untuk memperkirakan jumlahnya. Perkiraan tidak langsung
(indirect estimate) yaitu memperkirakan biomassa mikroorganisme dengan mengukur
komponen biokimia mikroorganisme ( Fardiaz, 1992).
Prinsip
metode total plate count adalah bila sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan
pada medium, maka mikroba akan berkembang biak dan membentuk suatu koloni yang
dapat dilihat tanpa menggunakan mikroskop.
Metode
ini merupakan cara paling sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan
alasan :
1. Hanya
sel mikroba yang hidup yang dapat dihitung
2. Beberapa
jasad renik dapat dihitung sekaligus
3. Dapat
digunakan untuk isolasi dan identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk
mungkin berasal dari mikroba yang memiliki penampang spesifik ( Dwidjoseputro,
2005).
Kelemahan
dari hitungan cawan ini adalah :
1. Hasil
hitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karena beberapa sel yang
berdekatan mungkin membentuk koloni
2. Medium
dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan jumlah yang berbeda pula
3. Mikroba
yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang
kompak, jelas, dan tidak menyebar.
4. Memerlukan
persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat
dihitung ( Dwidjoseputro, 2005).
Satuan
perhitungan mikroba yang digunakan adalah CFU ( Colony Forming Unit) dengan
cara membuat seri pengenceran sampel dan menumbuhkan sampel pada media padat.
Pengukuran dilakukan pada plate dengan jumlah koloni berkisar 25 – 250 atau 30
– 300 ( Pratiwi, 2008).
C. ALAT dan BAHAN
Total plate count :
Alat :
1. 6
cawan petri steril
2. 4
pipet volume 1mL
3. 1
tabung aquadest 9,9 mL
4. 2
tabung aquadest 9 mL
5. Lampu
spiritus
Bahan :
1. 0,1g
sampel Jamu Sariawan cap Dua Putri
2. Medium
Nutrient Agar
3. Medium
PDA
4. Antibiotik
kloramfenikol
D. CARA KERJA
Sampel
jamu tradisional
↓
Seri pengenceran 10-2
![]() |
![]() |
||||||
Seri pengenceran 10-3
![]() |
![]() |
||||||
Seri pengenceran 10-4
![]() |
![]() |
||||||
- PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini praktikan diminta untuk
melakukan enumerasi pada mikroba dengan metode total plate count. Metode ini dipilih
dengan alasan selain cara perhitungannya yang mudah, karena yang dihitung hanya
sel yang terlihat, dan perhitungan dengan metode ini dapat dilakukan dengan
cepat.
Metode ini dilakukan dengan cara pengenceran
bertingkat. Pada praktikum kali ini dilakukan tiga seri pengenceran yakni seri
pengenceran 10-2, 10-3, dan 10-4. Sediaan jamu
sebanyak 0,1g dilarutkan dalam aquadest 9,9 mL kemudian dikocok hingga
tercampur sempurna dan dimasukkan ke dalam cawan petri steril menggunakan pipet
volume steril. Kemudian dari tabung seri pengenceran 10-2, diambil
larutan sampel menggunakan pipet volume steril yang sama dan dimasukkan ke
dalam tabung aquadest seri pengenceran 10-3, dari tabung seri
pengenceran 10-3, larutan dimasukkan ke dalam cawan petri steril
menggunakan pipet volume steril baru dan dimasukkan juga ke dalam tabung untuk
seri pengenceran 10-4. Dari tabung seri pengenceran 10-4,
larutan dimasukkan ke dalam cawan steril menggunakan pipet volume yang baru.
Setelah itu, cawan petri diberi medium cair yaitu Nutrient Agar dan PDA.
Nutrient Agar digunakan untuk 3 cawan dan PDA
digunakan untuk 3 cawan lainnya. Selain bakteri, pada praktikum ini praktikan
juga dapat melihat ada atau tidaknya jamur pada sediaan farmasi berupa obat
tradisional. Oleh karena itu, digunakan dua medium tersebut. Alasan digunakan
Nutrient Agar untuk bakteri adalah karena kandungan nutrisi dari Nutrient Agar
sangat dibutuhkan oleh bakteri. Contohnya pepton yang digunakan sebagai sumber
nitrogen organik, protein, dan vitamin bagi bakteri. Air murni mengandung
banyak ion kalsium dan ion magnesium tinggi, sehingga cocok untuk pertumbuhan
bakteri.
Sementara PDA merupakan medium yang memiliki
kandungan karbohidrat tinggi yang berasal dari ekstrak kentang dan glukosa yang
tinggi, sehingga cocok untuk pertumbuhan jamur. Sedangkan untuk bakteri, medium
ini kurang sesuai karena beberapa bakteri tidak dapat memfermentasi karbohidrat
dengan baik seperti halnya jamur.
Dari hasil yang diperoleh, pada seri pengenceran 10-2
terdapat lebih dari 300 bakteri selama waktu inkubasi 24 jam dan 48 jam. Pada
pengenceran 10-3 terdapat 147 bakteri pada inkubasi 24 jam dan 254
bakteri pada inkubasi 48 jam. Seri pengenceran 10-4 diperoleh hasil
36 bakteri untuk inkubasi 24 jam dan 46 bakteri pada inkubasi 48 jam. Sementara
pada cawan berisi medium PDA, jamur tumbuh satu pada inkubasi 72 jam dan 96
jam. Hasil pengenceran 10-2 tidak sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa bakteri yang memenuhi syarat perhitungan adalah 30 – 300
bakteri (Pratiwi, 2008) karena jumlah bakteri yang melebihi 300 bakteri.
Sementara pada seri pengenceran lainnya sudah sesuai karena masuk dalam kisaran
angka tersebut. Hal ini terjadi karena adanya pengenceran. Pengenceran akan
menyebabkan berkurangnya jumlah bakteri yang ada dalam setiap seri pengenceran.
Cara dan alat yang digunakan tentu saja mempengaruhi
hasil dari pengenceran ini. Penggantian
pipet volume juga dimaksudkan agar bakteri pada setiap seri pengenceran dapat
sesuai dengan syarat perhitungan. Apabila pipet volume tidak diganti atau tidak
steril, maka pada seri pengenceran lanjutan, bakteri yang seharusnya memenuhi
syarat perhitungan menjadi tidak sesuai karena adanya kontaminasi. Cara
pengerjaan yang kurang aseptic juga akan mempengaruhi hasil dari perhitungan
bakteri atau jamur.
- EVALUASI
1. CFU
adalah satuan penghitungan jumlah mikroba dengan metode total plate count.
2. Tahap
pertama, ambil sampel sediaan farmasi 1 g dan larutkan dalam tabung 9 mL
aquadest. Dikocok sampai larut sempurna atau tercampur sempurna, kemudian masukkan
larutan sebanyak 1mL ke cawan petri dan tabung 9 mL aquadest untuk seri
pengenceran kedua dengan pipet volume yang sama.
Tahap
kedua, ambil larutan dalam tabung 10-2 dengan pipet volume yang
baru, dan maasukkan larutan ke dalam cawan petri dan tabung 9 mL aqaudest untuk
seri pengenceran 10-3.
Tahap
ketiga, dari larutan dalam pengenceran 10-3, ambil larutan dengan
pipet volume baru dan masukkan ke dalam cawan petri dan tabung 9 mL aquadest
untuk seri pengenceran 10-4.
Tahap
keempat, dari larutan dalam pengenceran 10-4, ambil larutan dengan
pipet volume baru dan dimasukkan ke dalam cawan petri serta tabung 9 mL
aquadest untuk seri pengenceran 10-5. Begitu seterusnya sampai seri
pengenceran 10-8.
3. Jumlah
pipet steril yang dibutuhkan apabila melakukan pengenceran sampai 1010
dengan menggunakan 99mL aquadest adalah 9 buah.
- DATA
PENGAMATAN
|
Medium
|
Pe-
ngen
ceran
|
Pengamatan
|
Jumlah Mikroba
|
||||||
|
24 jam
|
48 jam
|
72 jam
|
96 jam
|
24 jam
|
48 jam
|
72 jam
|
96 jam
|
||
|
Nutrient
Agar
(bakteri)
|
10-2
|
>300
|
>300
|
-
|
-
|
TBUD
|
TBUD
|
-
|
-
|
|
10-3
|
147
|
254
|
-
|
-
|
1,4x105
|
3,5
x 105
|
|
|
|
|
10-4
|
36
|
46
|
-
|
-
|
|
|
|||
|
PDA
(jamur)
|
10-2
|
-
|
-
|
1
|
1
|
1
x 102
|
1
x 102
|
|
|
|
10-3
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
|
|
10-4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
|
|
|
- KESIMPULAN
1. Enumerasi
mikroba dilakukan untuk mengetahui jumlah mikroba dalam suatu sediaan farmasi
dan menjadi tolok ukur apakah sediaan farmasi tersebut layak konsumsi atau
tidak.
2. Metode
total plate count merupakan metode enumerasi mikroba dengan cara pengenceran
bertingkat. Syarat penghitungan mikroba adalah 30 – 300 koloni dengan satuan
CFU.
3. Setiap
metode penghitungan mikroba memiliki kelebihan dan kekurangan. Metode TPC
memiliki kelebihan yakni perhitungan dapat dilakukan secara cepat karena hanya
mikroba yang terlihat saja yang dihitung, dapat digunakan untuk isolasi dan
identifikasi mikroba, beberapa jasad renik atau mikroba dapat dihitung
sekaligus. Sementara kelemahannya adalah waktu yang dibutuhkan relatif lama dan
mikroba tidak dapat terhitung seluruhnya.
- DAFTAR
PUSTAKA
-
Afriyanto, Pakan Ikan dan Perkembangannya, Kanisius, Jakarta
-
Dwidjoseputro, 2005, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan,
Jakarta
-
Fardiaz, 1992, Mikrobiologi Pangan, IPB, Bogor
-
Harmita, 2006, Buku Ajar Analisis Edisi Ketiga, Buku Kedokteran EGC, Jakarta
-
Pratiwi, 2008, Mikrobiologi Farmasi, EMS, Jakarta
Semarang, 4 April 2014
Dosen pengampu
Praktikan
Dra. M.G. Isworo Rukmi, MKes. Restu
Wulandari
- LAMPIRAN
Pengamatan 24 jam bakteri

![]() |
Pengamatan
48 jam bakteri


Pengamatan
72 jam jamur
![]() |
![]() |
|||
![]() |
||||
Pengamatan
96 jam jamur
![]() |












