PEMBUATAN
TABLET METODE KEMPA LANGSUNG
NIFEDIPINE
A. TUJUAN
1. Mahasiswa
dapat membuat sediaan tablet menggunakan metode kempa langsung dengan baik dan
benar
2. Mahasiswa
dapat membuat formulasi sediaan tablet serta dapat melakukan perubahan formula
untuk menghasilkan tablet yang lebih baik
3. Mahasiswa
dapat melakukan pengujian pada serbuk atau tablet dengan baik
4. Mahasiswa
dapat menganalisis permasalahan yang ada beserta cara penyelesaiannya
5. Mahasiswa
dapat membuat kemasan produk yang menarik dan informatif.
B. DASAR TEORI
Tablet
adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Berdasarkan metode pembuatan tablet dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan
tablet kempa (Depkes RI, 1995).
Persyaratan
sediaan tablet.
Beberapa
persyaratan yang harus dimiliki oleh sediaan tablet yang baik, antara lain :
1. Kuat
dan tahan akan gesekan yang terjadi pada saat pentabletan, pengemasan,
transportasi, dan penggunaan.
2. Kadar
obat harus terpenuhi, sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Farmakope
Indonesia.
3. Memenuhi
uji keseragaman bobot dan kadar zat aktif di dalam tablet.
4. Memenuhi
uji ketersediaan hayati. Pada tahap awal, kecepatan dan banyaknya obat yang
dilepaskan dari tablet, dapat ditentukan oleh waktu hancur tablet.
5. Penampilan
yang baik dan menarik, oleh karena itu seringkali diperlukan bahan pewarna,
perasa, dan pengaroma.
6. Dapat
mempertahankan sifat-sifatnya, yaitu tablet harus tetap akseptabel, aman, dan
manjur bila digunakan (Hadisoewignyo, dkk, 2013).
Keuntungan
sediaan tablet.
Bentuk
sediaan tablet memiliki beberapa keuntungan, antara lain adalah sebagai berikut
:
1. Memiliki
ketepatan dosis dalam tiap tablet atau dalam tiap unit pemakaian.
2. Tablet
lebih stabil dan tidak mudah ditumbuhi mikroba karena berada dalam bentuk
kering dengan kadar air yang rendah.
3. Mudah
dalam pengemasan dan transportasi.
4. Tablet
dapat dibawa dengan mudah.
5. Bau,
rasa, dan warna yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan penyalutan
tablet.
6. Tablet
dapat digunakan dengan mudah tanpa bantuan tenaga medis.
7. Dibandingkan
dengan kapsul, tablet lebih tamper prof (sulit dipasulkan) (Hadisoewignyo, dkk,
2013).
Kerugian
sediaan tablet.
Selain
keuntungan yang dimiliki sediaan tablet, terdapat pula beberapa kerugian bentuk
sediaan tablet, yakni :
1. Bahan
aktif dengan dosis besar sulit dibuat tablet karena akan menghasilkan bentuk
tablet yang terlalu besar.
2. Terdapat
kendala dalam pembuatan formulasi dengan zat aktif yang sulit terbasahi, tidak
larut, serta memiliki disolusi yang buruk.
3. Mula
kerja sediaan tablet lebih lama dibandingkan dengan kapsul, injeksi, atau
sirup.
4. Kesulitan
menelan pada anak-anak, pasien dengan kondisi khusus atau lansia
(Hadisoewignyo, dkk, 2013).
Komponen
sediaan tablet.
Komponen
sediaan tablet terdiri dari zat aktif, bahan pengisi, bahan pengikat,
disintegran, dan lubrikan. Selain itu, tablet juga dapat mengandung bahan
pewarna yang diizinkan, bahan pengaroma dan bahan pemanis.
1. Bahan
pengisi ditambahkan jika jumlah zat aktif sedikit atau sulit dikempa. Contohnya
laktosa, pati, kalsium fosfat dwibasa, dan selulosa mikrokristal.
2. Bahan
pengikat memberikan daya adesi pada massa serbuk sewaktu digranulasi serta
menambah daya kohesi pada bahan pengisi. Misalnya gom akasia, gelatin, sukrosa,
povidon, metilselulosa, CMC, pasta pati, dan lain-lain.
3. Bahan
penghancur membantu tablet agar dapat hancur setelah ditelan. Contohnya pati,
pati dan selulosa yang dimodifikasi secara kimia, asam alginate, selulosa
mikrokristal, dan povidon sambung-silang.
4. Bahan
lubrikan mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan berguna untuk
mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Contohnya asam stearate, campuran
senyawa asam stearate, minyak nabati terhidrogenasi dan talcum. Umumnya
lubrikan bersifat hidrofobik.
5. Glidan
adalah bahan yang dapat meningkatkan kemampuan mengalirnya serbuk, umumnya
digunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. Contohnya silica
pirogenik koloidal.
6. Bahan
pewarna dan lak ditambahkan untuk memperoleh nilai estetika atau untuk memberi
identitas produk (Syamsuni, 2007)
Tabletasi
langsung atau kempa langsung adalah pencetakan bahan obat atas campuran bahan
pembantu berbentuk serbuk tanpa proses pengolahan awal. Keuntungan dari metode
ini adalah bahwa bahan obat yang peka lembab dan panas, yang stabilitasnya
terganggu akibat granulasi dapat dibuat menjadi tablet. Tetapi hanya sedikit
obat yang dibuat dengan tabletasi langsung ini, tanpa pengolahan awal dan tanpa
bahan pembantu.
Beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi dalam proses pembuatan tablet dengan metode
kempa langsung ini adalah (1)memiliki sifat alir yang baik; (2)memiliki
kompresibilitas baik; (3)kapasitas yang tinggi yang menggambarkan kemampuan
untuk menahan sifat-sifat kompaksinya saat dicampur dengan bahan aktif; (4)memiliki
distribusi ukuran partikel yang baik, untuk menghindari terjadinya segregasi;
(5)memiliki densitas ruahan yang tinggi; (6)reprodusibel dalam produksi baik,
untuk meminimumkan keseragaman antar-batch (Hadisoewignyo, dkk, 2013).
Bahan
pembantu sebaiknya dapat meningkatkan sifat aliran dan melalui daya ikat
tambahannya memungkinkan pencetakan serbuk dan menyebabkan kompaknya cetakan.
Metode cetak langsung umumnya digunakan untuk zat-zat aktif yang termolabil,
memiliki daya larut yang buruk dengan pelarut dan terutama memiliki dosis yang
kecil untuk zat aktifnya. Kekurangan dari metode cetak langsung dengan dosis
kecil adalah tidak tercampur merata dengan komponen lainnya.
Sedangkan
untuk zat aktif dosis besar tidak dapat digunakan karena gaya tarik menarik
antar molekulnya lemah atau diselimuti oleh gas yang diabsorbsi dan cenderung
untuk menghalangi kekompakan tablet. Oleh karena itu, penggunaan pengisi pada
metode ini sangat berperan penting. Pengisi yang digunkan adalah bahan yang
bersifat netral, misalnya Avicel PH 102 (Ansel, 2008).
Selain
itu, eksipien yang digunakan adalah,
a. Amilum,
sebagai penghancur, dipilih karena amilum merupakan bahan yang cepat kontak
dengan cairan lambung sehingga tablet dapat cepat dihancurkan dengan melepaskan
zat aktif.
b. Magnesium
stearate, sebagai lubrikan, digunakan untuk mengurangi gesekan antara obat
dengan mesin cetak. Dipilih karena Mg. stearat merupakan lubrikan yang baik
daripada asam-asamnya.
c. Talkum,
sebagai pelicin, digunkan untuk mengurangi keterikatan antar partikel pada saat
dicetak sehingga dapat memberikan sifat alir yang baik (Syamsuni, 2007).
Tablet kempa langsung digunakan untuk pengobatan
local dan sistemik. Untuk pengobatan local, misalnya tablet vagina dan
lozenges. Sedangkan untuk pengobatan sistemik contohnya tablet bukal, tablet
sublingual, tablet implantasi (Anief, 2006).
Keuntungan
metode cetak langsung adalah sebagai berikut :
1. Merupakan
tahap produksi tablet yang paling singkat.
2. Keperluan
akan alat, ruangan, waktu dan daya manusia lebih sedikit
3. Dapat
meningkatkan disintegrasi zat aktif karena tablet langsung mengalami distegrasi
menjadi tablet.
4. Metode
ini dapat mengeliminasi panas dan lembap yang terjadi pada proses pembuatan
dengan granulasi basah dan mengurangi terjadinya tekanan tinggi seperti yang
terjadi pada proses granulasi kering.
Kerugian
metode cetak langsung adalah sebagai berikut :
1. Harga
bahan tambahan yang dibutuhkan cukup mahal karena membutuhkan eksipien dengan
sifat alir, kompresibilitas, serta ikatan antar partikel yang baik.
2. Bahan
aktif dan bahan tambahan harus memiliki ukuran partikel yang mirip agar tablet
yang dihasilkan memiliki keseragaman kandungan yang baik.
3. Kesulitan
dalam mendistribusikan zat aktif yang memiliki dosis besar dengan
kompresibilitas buruk (Hadisoewignyo, dkk, 2013).
C.
|
D. PEMERIAN
1.
Nifedipine
Nama zat aktif : nifedipin
Rumus molekul : C17H18N2O6
Bobot molekul : 364,34
Pemerian : serbuk kuning, terurai oleh cahaya langsung
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air,
mudah larut dalam aseton dan kloroform, kurang larut dalam etanol.
Indikasi : hipertensi esensil
Stabilitas : dibawah pengaruh cahaya
menglami tata ulang fitokimia akan berubah.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat,
terlindung dari cahaya (Depkes RI, 1995).
2.
Explotab
Nama lain : sodium starch glycolate,
carboxymethyl starch.
Organoleptis :
white or almost white free-flowing, very hygroscopic powder.
Kelarutan :
practically insoluble in methylene chloride. It gives translucent suspension in
water.
Penggunaan :
desintegrant.
Kadar :
2 – 8%
Penyimpanan :
should be stored in well-closed container (Rowe, 2009).
3.
Aerosil
Organoleptis :
silica dalam bentuk mikroskopis dengan ukuran partikel sekitar 15mm, serbuk
ringan, putih kebiruan, tidak berbau, tidak berasa
Kelarutan :
praktis tidak larut dalam pelarut organic, air, dan asam kecuali hydrofluoric
acid, larut dalam larutan panas alkali hidroksida, kelarutan dalam air 150 mg/L
Penggunaan :
glidan
Kadar :
0,1 – 0,5% (Rowe, 2009)
4.
Talcum
Nama lain : talk
Organoleptis
: serbuk hablur sangat halus,
licin, mudah melekat pada kulit, bebas dari butiran: warna putih, atau putih
kelabu
Kelarutan : tidak larut dalam hampir semua pelarut
Penggunaan : pelincir
Kadar : 1 – 10%
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik (Depkes RI, 1979)
5.
Avicel
PH 102
Nama
lain : Avicel PH, Celex, Crystalline Cellulose
Pemerian :
microcrystalline cellulose is a purified partially depolymerized cellulose that
occurs as a white odorless, tasteless, crystalline powder composed of porous
particles. It is commercially available in different partied sized and moisture
grades that have different properties and applications.
Kelarutan :
slightly soluble in 5% w/v sodium hydroxide solution; practically in soluble in
waters, dilute acid, and most organic solvent.
Penggunaan :
tablet binder
Kadar :
20 – 90%
Penyimpanan :
dalam wadah tertutup rapat (Rowe, 2009)
A. CARA KERJA
Diayak
aerosil
↓
Ditimbang
aerosil 216 mg
↓
Ditimbang
talcum 720 mg
↓
Ditimbang
explotab 2880 mg
↓
Ditimbang
avicel PH 102 64184 mg
↓
Ditimbang
nifedipin 4000 mg
↓
Dicampur
semua bahan, diaduk hingga homogen
↓
Dilakukan
pencetakan tablet dengan bobot 180mg ±5%
B.
PENGUJIAN
TABLET
1.
Uji
Waktu Alir
Ditimbang
100 gr serbuk
↓
Dimasukkan
flow meter
↓
Ditutup
bagian bawah alat
↓
Dilepas
tutup, bersamaan dengan menghidupkan stopwatch
↓
Dicatat
waktu untuk mengalirkan 100 gr serbuk
↓
Diluangi
sebanyak 3 kali
2.
Uji
Waktu Hancur
Disiapkan
alat uji
↓
Dipanaskan
air dengan suhu 37oC ±2oC
↓
Dimasukkan
6 tablet (Tiap tabung 1 tablet)
↓
Dinyalakan
stopwatch secara bersamaan
↓
Dicatat
waktu hancur tiap tablet
3.
Uji
Kekerasan Tablet
Diletakkan tablet dengan posisi tegak pada landasan
↓
Diatur jarak landasan dan baut yang ada diatasnya
sehingga tablet pada posisi berhimpit
↓
Diatur skala kekerasan pada posisi nol
↓
Ditekan pengungkit hingga tablet pecah
↓
Dicatat angka yang tertera. Kekerasan minimum tablet
adalah 4kg
4.
Uji
Kerapuhan Tablet
Dibersihkan 20 tablet dari debu dan serpihan
↓
Ditimbang 20 tablet yang telah dibersihkan
sebelumnya
↓
Dimasukkan kedalam Fariability Tester,
diputar selama 4 menit dengan kecepatan 25rpm
sebanyak 100x
↓
Tablet dikeluarkan dan dibersihkan debunya
↓
Ditimbang 20 tablet
↓
Dihitung prosentase kerapuhan.
Syarat maksimal kerapuhan tablet adalah 1%.
5.
Uji
Dimensi Tablet
Diambil satu
tablet, dijepit dengan jangka sorong
(posisi berdiri)
↓
Dicatat diameter
tablet
↓
Dijepit kembali
tablet dengan posisi tidur
↓
Dicatat
ketebalan tablet
6.
Uji
Keseragaman Bobot
Ditimbang 20
tablet secara acak
↓
Ditimbang tablet
satu persatu
↓
Dicatat
rata-rata keseragaman bobot tablet
C.
DATA
HASIL PRAKTIKUM
1. Waktu
alir : 28,8o
2. Uji
kekerasan tablet : 6,5 kg
3. Uji
waktu hancur : 1 menit
4. Uji
kerapuhan tablet : 0,51%
5. Kecepatan
alir : 5,99gr/s
6. Uji
keseragaman bobot : SERAGAM
7. Dimensi
tablet : t = 3,5 mm ; d
= 8 mm
8. Rendemen : 84%
D. PEMBAHASAN
Praktikum
kali ini, praktikan membuat sediaan tablet menggunakan metode kempa langsung.
Dalam proses kempa langsung, tidak dilakukan pengolahan awal (granulasi)
seperti pada metode granulasi basah maupun granulasi kering. Pembuatan
dilakukan dengan mengempa langsung zat aktif dan bahan tambahan. Bahan aktif
yang digunakan adalah nifedipin dengan kadar 10 mg. Sementara bahan tambahan
yang digunakan adalah talkum, aerosil, explotab, dan avicel PH 102.
Dalam
proses pembuatan perlu diperhatikan sifat-sifat khusus setiap komponen obat.
Pengayakan aerosil di awal bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel karena
aerosil berbentuk bongkahan. Begitu pula dengan bahan lain. Pengayakan
bertujuan untuk membuat ukuran partikel menjadi sama atau kurang lebih sama
agar dapat memudahkan proses tabletasi. Nifedipin ditimbang terakhir karena
bahan ini dapat bereaksi dengan cahaya yaitu adanya perubahan warna.
Sebelum
proses tabletasi dilakukan pengujian terhadap serbuk. Pengujian meliputi waktu
alir, uji kerapuhan tablet, uji kekerasan tablet, uji keseragaman bobot, uji
dimensi tablet, dan uji waktu hancur tablet.
Pertama
uji waktu alir dan sudut diam serbuk dilakukan menggunakan alat flowbility
tester. Hasil yang baik adalah kurang dari 30o. Apabila hasil lebih
dari yang ditentukan maka serbuk memiliki sifat alir yang buruk. Dari hasil
pengujian serbuk praktikan, diperoleh hasil 28,8o. Hasil ini
menunjukkan serbuk memiliki sifat alir yang baik. Dalam pembuatan tablet dengan
metode kempa langsung, sangat penting memperhatikan sifat alir serbuk karena
dapat mempengaruhi hasil tabletasi.
Yang
kedua uji kerapuhan tablet. Setelah tablet dicetak, dilakukan uji kerapuhan
tablet yang bertujuan mengetahui stabilitas tablet terutama saat proses
pengemasan dan pendistribusian. Tablet kempa langsung lebih mudah rapuh
daripada tablet yang dibuat dengan metode granulasi basah karena tidak ada
penambahan larutan pengikat. Sediaan yang dibuat dengan kempa langsung harus
memiliki kompresibilitas yang baik agar dapat memenuhi uji ini. Oleh karena
itu, pemilihan bahan tambahan harus diperhatikan dengan baik. Bahan tambahan
harus memiliki sifat alir dan kompresibilitas baik serta tidak mempengaruhi zat
aktif. Persyaratan uji kerapuhan tablet adalah <1%. Hasil pengujian yang
dilakukan praktikan diproleh data 0,51%. Dapat disimpulkan tablet yang dibuat
praktikan memenuhi uji kerapuhan.
Ketiga,
uji kekerasan tablet. Kekerasan mempengaruhi kerapuhan dan waktu hancur tablet.
Semakin keras suatu tablet maka kerapuhan akan semakin kecil dan waktu hancur
semakin lama. Dari hasil pengujian diperoleh data 6,5 kg.
Keempat,
uji waktu hancur tablet. Waktu hancur tablet akan mempengaruhi efektivitas zat
aktif dalam tablet itu sendiri. Semakin lama waktu hancurnya, maka efek yang
diinginkan akan semakin lama didapat. Begitu pula apabila waktu hancur singkat,
maka kemungkinan zat aktif dapat memberi efek juga akan semakin kecil. Hasil
pengujian yang dilakukan praktikan yaitu 1 menit untuk semua tablet. Hal ini
dapat disebabkan karena ukuran partikel yang diperkecil untuk mempermudah
pencetakan dan kombinasi bahan yang kurang tepat. Pada metode kempa tidak ada
granulasi sehingga ukuran partikel serbuk jauh lebih kecil.
Kelima,
uji keseragaman bobot. Uji keseragaman bobot akan menentukan apakah tablet yang
diproduksi dapat dipasarkan atau tidak. Adanya penyimpangan bobot juga akan
mempengaruhi kadar zat aktif dalam tiap tablet. Hal ini akan mengakibatkan
efektivitas tiap tablet akan berbeda. Hasil pengujian menunjukkan sediaan
tablet yang dibuat praktikan memenuhi syarat dan dapat diedarkan.
Keenam,
uji dimensi tablet. Perbedaan ukuran fisik tablet biasanya jarang terjadi
karena alat yang digunakan dalam pencetakan tablet dalam satu batch sama.
Adanya penyimpangan dimungkinkan karena adanya penggantian alat cetak pada saat
proses pencetakan. Perbedaan dimensi tablet juga mempengaruhi kandungan zat
aktif dalam tablet, sehingga perlu diperhatikan ukuran tablet yang diproduksi.
E. DESAIN KEMASAN
DATA
TERLAMPIR
F. KESIMPULAN
Dari
praktikum yang telah dilakukan oleh praktikan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Metode
kempa langsung merupakan metode pembuatan tablet yang paling mudah. Meskipun
begitu, pemilihan bahan aktif dan bahan tambahan perlu diperhatikan dan
memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
2. Formulasi
sediaan tablet kempa langsung dapat mempengaruhi hasil akhir sehingga perlu
diperhatikan karakteristik setiap komponen bahan obat.
3. Pengujian
yang dilakukan dalam pembuatan tablet dengan metode kempa langsung meliputi uji
waktu alir dan sudut diam, uji kekerasan tablet, uji kerapuhan tablet, uji
waktu hancur, uji keseragaman bobot, dan uji dimensi tablet. Pengujian
dilakukan dengan tujuan memeproleh hasil akhir yang sesuai persyaratan sehingga
tablet yang dibuat dapat diedarkan.
4. Permasalahan
yang paling mendasar adalah pemilihan komponen bahan yang akan digunakan.
Setiap bahan obat yang memenuhi syarat metode kempa langsung akan menghasilkan
tablet yang baik.
5. Kemasan
tablet diharapkan tidak hanya menarik tetapi juga dapat memberi informasi
secara lengkap dan jelas kepada konsumen.
6. Dari
praktikum dan pengujian yang dilakukan oleh praktikan, dapat disimpulkan
sediaan tablet dapat diedarkan ke pasaran.
G. DAFTAR PUSTAKA
Anief,
2006, Ilmu Meracik Obat, UGM Press,
Jogjakarta
Ansel,
2008, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi,
UI Press, Jakarta
Depkes
RI, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Depkes
RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV,
DEpartemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Hadisoewignyo,
dkk, 2013, Sediaan Solida, Pustaka
Pelajar, Jogjakarta
Rowe,
2009, Handbook of Pharmaceutical
Excipient 6th Edition, Pharmaceutical Press, London
Syamsuni,
2007, Farmasetika Dasar dan Hitungan
Farmasi, EGC Press, Jakarta
Tjay,
Tan Hoan & K. Rahardja, 2007, Obat-Obat
Penting, PT. Gramedia Pustaka, Jakarta